meniti jalan takdir Tya

8:59 PM






"Kamumah asik, akumah nanti jadi guru. Sekarang masih kuliah, banyak tugas, kill me now...," keluh kamu.

"Well, most people who said that they want to die, they don't really want to die!" Jawab saya pada kamu.


Diteruskan dengan jawaban jawaban lainnya yang berupaya membesarkan hati kamu. Kita boleh berteman sejak hampir seluruh rutinitas kita sama. Mulai dari bangun pagi, naik angkot, masuk gerbang sekolah, ikut pelajaran dengan pikiran yang masih tertinggal di luar kelas, istirahat sambil gossiping, punya pacar, pulang sekolah yang tidak langsung menuju rumah. Yup! high school rocks!

Tapi dunia memaksa kita dewasa, menghadapkan pada banyak pilihan. Dan kini pilihan itu ada di depan mata kita. Kamu dengan pilihanmu mengikuti studi lagi, aku dengan satusatunya pilihanku menjajal dunia kerja. Dan rutinitas kitapun dijamin tak lagi banyak kesamaan, dan perbedaan itu kadang membuat iri.

Kamu yang merasa aku sering bertualang kesana kemari, aku yang merasa hidupmu stabil dan melaju ke arah yang pasti. Dan kita mengatakannya lantang, karena tak ada yang perlu disembunyikan. Karenanya pula ketika kita bersua membawa buntalan keluhan, yang kita lontar dan dapati adalah ucapan-ucapan tulus membesarkan hati.

Karena teman, demi tuhan kamu seharusnya bersyukur mendapatkan segala yang kamu dapatkan sekarang. Lainnya rela mati untuk dapat kesempatan seperti yang kamu punya. Sementara kamu, terkadang justru ingin menukar dengan apa yang aku punya. Mungkin aku juga seharusnya bersyukur, kalau demikian adanya. Maybe this is it, a sweet dispositions.

"while our blood still young, it's so young it's run, won't stop ti;; it's over, won't stop to surrender..."

You Might Also Like

6 comments

recent posts

Dear you,

Be a Creator, Today!

Be a Creator, Today!
Click at the Image to know how you can earn money from writing!

Google+ Followers

Subscribe