Tepian buat Nenden

10:25 AM







"Take me above your light!"






Oke, lalu kita dengan bahagia terjebak bersama dalam road trip menuju entah ke mana. Dan saya membentangkan tangan dan menengadahkan wajah biar terpapar panas matahari pagi. Sementara sambil tertawa kamu memegang kendali, dengan kacamata hitam yang entah kenapa tampak pas sekali di potongan wajahmu itu. Padahal kalau saya malahan seperti memakai kaca muka, tapi waktu saya bilang begitu kamu malah tertawa geli. Bersama lagu ini riang mendendangkan permintaan untuk diperdaya cahaya dan pesona kota.

Lalu kita menepi, hanya karena ada padang rumput luas membentang. Hanya karena kita ingin menepi, dan berlari. Di tepian itu, yang sepertinya dicipta khusus buat kamu dan saya.

Sejenak saya lupakan perasaan pedih pedih kecil yang selalu terbawa sepaket dengan tingginya harapan saya untuk menjadi perempuan mandiri dan sukses. Seperti yang pernah saya katakan pada kamu kalau boleh saya bayangkan hidup saya sepuluh tahun mendatang.

"Saya menyeruput teh melati hangat sambil menatap hujan di balik jendela apartemen sementara kucing saya meringkuk di bawah telapak kaki saya. Sepulang bekerja dari pekerjaan yang saya nikmati sambil menunggu jam kencan bersama laki-laki yang saya kagumi," oceh saya.

Sejenak kamu lupakan kegundahanmu yang terbawa sepaket dengan besarnya harapan kamu untuk memiliki keluarga bahagia. Seperti yang pernah kamu katakan pada saya kalau boleh kamu bayangkan hidup kamu sepuluh tahun mendatang.

"Saya menyiapkan makanan sambil menunggu suami pulang dari pekerjaan yang ia sukai dan dapat menghidupi keluarga. Sementara anak-anak sedang bermain ada juga yang membuat PR. Sesekali kamu tengok komputer memantau penjualan butik online yang kamu garap sebagai sambilan," cerita kamu.

Sejenak kita lupakan, untuk menepi dan berlari. tertawa diterpa hangat mentari yang perlahan mengubah wangi sampo di rambut kita jadi wangi sun burn, dengan bau rumput dan perlahan menempel di sepatu kesayangan kita, yang lama-lama kita lepaskan dan kita genggam di tangan, dengan tetesan keringat yang kita syukuri daripada air mata yang menetes, dengan nafas terengah-engah yang kita nikmati sebagi bukti udara masih kita hirup, dengan tawa yang perlahan menempel di hati kita.

Lalu waktunya kembali dalam perjalanan tiba, membawa serta sebuah potret akan kita yang menepi, ini, bawa ini selalu, potret akan kita yang menepi, sekarang kita kembali melaju, sambil sesekali harus berlari.


*daydream di dalam bus damri dalam perjalanan ke Jatinangor siang kemarin. Di dalam pengaruh hello seattle by owl city, pohon, rumput, dan mentari pagi di sekitaran tol padaleunyi. Dan entah kenapa wajah dia yang muncul di daydream saya siang itu.

You Might Also Like

10 comments

recent posts

Dear you,

Be a Creator, Today!

Be a Creator, Today!
Click at the Image to know how you can earn money from writing!

Google+ Followers

Subscribe