morning of the (supposed to be) glorious life

5:59 PM

chapter 6 : the first day of july

"the thing is, i love her,
but sometimes it's hard to be
around her"


selepas kerja, seperti biasa, saya jalan kaki menuju tempat kos. tiba-tiba saja teringat, sebentar lagi tanggal satu juli bakal datang. saya jadi gamang. memikirkan dia. bagaimana kalau saya menjajal mencoba walk in her shoes.

apakah dia pernah merasa bahagia?
apakah cita-citanya tercapai?

saya sadar, saya adalah orang yang self centered. sejak dulu saya selalu tahu apa yang saya mau dan berusaha keras mendapatkannya, dalam hal apapun. teman dekat saya juga bilang begitu. makanya jangankan memikirkan dua pertanyaan itu. saya sibuk dengan pertanyaan atas diri saya. sampai malam itu.

saya tidak yakin, kalau dia bahagia. kalau saya pikir-pikir, kalau saya jadi dia, saya enggak bisa. terlalu banyak dikecewakan, sama kenyataan. bagaimana dia bisa menyesuaikan diri ketika keluarganya jatih miskin. padahal di tahun PKI berjaya itu, orang tuanya bahkan punya mobil dan beberapa usaha.

bagaimana dia bisa menghadapi perubahan dalam pernikahannya? bagaimana dia menghadapi perubahan dalam dirinya, sebagai perempuan. dan yang paling membuat saya rendah diri adalah bagaimana dia menerima bahwa anak-anaknya tidak tumbuh seperti yang dia mau.

kegagalan terbesar saya adalah menjadi diri sendiri. tapi, ini juga justru pencapaian saya yang membanggakan. tapi tidak, bagi dia. sayangnya, saya bukan anak yang dia inginkan. saya bukan perempuan muslimah berjilbab, bertutur lembut, bekerja sebagai PNS, menikah dengan laki-laki pemuka agama, dan punya anak. sama sekali, saya bukan.

padahal dia rajin sholat, rajin mengaji, rajin memberi masukan agama pada orang lain. kenapa dia punya anak seperti saya yah? kalau dia saja di umurnya yang sekarang masih saja belum mendapatkan apa yang dia mau, apalagi saya, saya kecil hati. betapa kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan.

kalau ingat ini, saya takut punya anak. bukan takut punya anak semacam saya, atau semacam yang tidak saya mau. tapi saya takut. kelak anak saya akan berpikir seperti saya. merasa gagal setiap kali menatap mata ibunya. heu.

lalu, upaya saya mengajak jalan-jalan itu. belanja-belanja itu. makan-makan itu. merasa masih kurang saja. ahh, kapan saya bisa dapat rejeki lebih buat mewujudkan mimpi dia yang belum saja bisa saya bantu wujudkan itu? satusatunya cita-cita dia yang mungkin bisa saya wujudkan. ahh, saya merasa semakin kecil hati. benci, ketika merasa powerless.

maaf ibu, buat semuanya.

You Might Also Like

9 comments

recent posts

Dear you,

Be a Creator, Today!

Be a Creator, Today!
Click at the Image to know how you can earn money from writing!

Google+ Followers

Subscribe