morning of the (supposed to be) glorious life

10:32 AM

chapter 7: a tough shell, i am. am i?




"Some say I'm out of sight, how i run and that we're all so blind. If you could open up your eyes, you could see what i couldn't describe. And then, you'd see the signs, and your soul would be set free, and then you'd be released."






S
aya masih ingat, alasan kakak saya melarang saya masuk SMAN 2 Bandung. Sekolah yang awalnya ingin saya masuki dulu. Selain jaraknya yang jauh dari rumah, kakak saya bilang, dia takut saya jadi cewek "gaul" yang sibuk main, bikin pensi, dan sama sekali enggak peduli pelajaran. Atas pengalaman dia berteman dengan anak SMAN 2 jaman dia sekolah dulu.

Saya juga masih ingat, pengalaman saya dan teman saya Gita menginjakkan kaki ke kampus Unpad Dipatiukur untuk pertama kalinya dulu. Kami merasa seperti dari dunia lain di hadapan para mahasiswa D3. Betapa kami under dressed, under make up, dan under confident, kalau memang ada kata-kata seperti itu. Lalu kami berhenti menilai, dan mulai instrospeksi, dan berkesimpulan bahwa: itu merupakan tuntutan lingkungan. Dan betapa kalau kami masuk ke sana pun mungkin akan demikian.

Beberapa tahun setelah itu, obrolan masih berlanjut. Mengenai apakah kami akan menjadi pribadi yang berbeda kalau kami masuk ke universitas atau bahkan jurusan lain. Mengenai dandanan, pergaulan, dan hal-hal yang sebenarnya enggak penting-penting banget. Lalu kami tersadar, bukannya kami selama ini juga kuliah di fikom? Yang katanya anak-anaknya gaul. Yang katanya suka main malam di diskotik, yang katanya sering banget bikin acara musik, yang katanya bebas berekspresi dengan pakaian atau make up.

Dan menemui betapa kami, yah biasa saja. Seperti citra diri yang selama ini kami percaya. Dengan prinsip yang kami pegang masih melekat. Enggak mudah terpengaruh juga, enggak mudah berubah juga. Di situlah kami sadar. Lingkungan memang berpengaruh, tapi diri kita, siapa kita, yah kita sendiri yang menentukan. Dan itu bukan sekedar teori. Kami membuktikannya.

"And why do you expect the door to open up,
if you don't even knock?"

Seperti sekarang, delapan bulan sudah saya di sini, di megapolitan. Yang katanya akan merubah saya. Yang saya takut merubah saya. Yang saya juga pikir merubah saya. Kalau cara saya berpikir, sih, pasti. Tapi saya memutuskan, i am who i am, i've made up my mind.

Kalau kata pepatah sunda, moal kabawa ku sakaba-kaba.

Setelah mencicip sepotong megapolitan, saya sadar, saya tidak suka rasanya. Saya tidak suka bagaimana ia membuat saya menjadi someone that i'm not. Dan seperti biasa, setelah mencicip dan mengalami gegar budaya, saya menjadi diri saya kembali.

Tidak, saya tidak ingin terjebak di rimba ini dengan sekantung placebo. Karena ketika saya melintas, semuanya terlihat seperti rangkaian potongan salindra dengan judul:

YOU CAN'T AFFORD ME!


*thank God, i like my job, my colleague, my friends, my brothers and mum, and my boyfriend :D

You Might Also Like

6 comments

recent posts

Dear you,

Be a Creator, Today!

Be a Creator, Today!
Click at the Image to know how you can earn money from writing!

Google+ Followers

Subscribe