why men cheats and woman takes them back

10:19 AM


"Look, you can't blame me
for trying to hide the fact that I had an affair with her.
I know that it's not the most honorable thing to cheat on your wife,
but that does not make me a murderer."

- match point (2005)

Affair. Sangat dekat dengan kehidupan saya sehari-hari. Kisah-kisah affair yang romantis melankolis sampai yang bejat dan laknat mampir di telinga saya. Sebagai pendengar, saya seperti diceritakan bagaimana rasa caviar. Bisa sedikitnya saya bayangkan, namun belum pernah saya cicipi. Karenanya, ketika mereka berkisah, ketika mereka membeberkan rasa nikmatnya, saya hanya bisa membayangkan.

Bisa saya katakan mayoritas orang di sekitar saya terlibat dengan kata ini, affair. Apakah dia menjadi pelaku, korban, saksi, ataupun kebetulan menjadi pendengar seperti saya. Yang jelas, kata dan perilaku ini bukan hal yang aneh. Secara tidak wajar, dia menjadi biasa.

why men cheats?
Sering saya buka sesi obrolan dengan tema ini dengan beberapa teman laki-laki. Atau kakak saya sendiri yang juga laki-laki. Dengan track record pacaran yang melebihi jumlah jari di kedua tangan, dia mengaku tidak pernah sekalipun menjadi pelaku. Korban? Beberapa kali. Makanya, ketika saya ungkap tema ini, dia menembak balik. "I never cheats, but people cheats on me. girls cheat on me."

Another friend simply said, because i can. Because it easy. Dan kedua kalimat itu tidak muncul seketika saya tanya. Dia putar dulu dengan sejuta alasan betapa pasangannya tidak sempurna. Betapa hubungan mereka tidak menyenangkan. Betapa pacarnya ini tidak memuaskan, penuh masalah, dan lainnya. Tapi ketika saya tanya kenapa tidak diputuskan saja dan mencari pasangan lain setelah single. Dia mulai merumuskan alasan. Dan keluarlah kalimat tadi. Karena bisa. Karena mudah.

when chances ring your bell
Sejak masih sekolah, ketika belajar naksir cowok, saya sudah punya prinsip. I don't cheat and i don't tolerate they who do. Makanya ketika teman-teman di sekitar saya dengan santainya berbuat, saya jadi bingung. Kenapa mereka dengan mudahnya. Tapi saya pikir, toh saya bukan cewek populer, saya tidak cantik, bukan idola, saya tidak punya kesempatan. Ada yang suka sama saya saja rasanya ajaib.

Tapi, kalau saya pikir-pikir lagi, banyak sekali kesempatan itu. Hanya saja saya tidak melihatnya. Hal yang membuat saya sadar adalah pengalaman akhir-akhir ini. Dengan hubungan LDR yang saya punya, betapa mudah sekali untuk tidak memegang janji. Dan kesempatan itu pun bertebaran di mana-mana. Dan saya masih bukan perempuan populer atau idola. It is damn easy!

our cheating minds
Konsep dan batasan cheating sebenarnya juga abu. Makanya saya buat sendiri. Saya sadar, perasaan orang tidak bisa dibendung tidak bisa dipaksa. Saya juga sadar, pikiran orang tidak bisa digenggam. Karenanya, bagi saya, cheating with your mind or feeling tidak terelakkan. Toh, banyak sekali orang menarik di luar sana. And they will blow your mind. Adalah keputusan dan tindakan yang yang bisa dilihat, bisa dinilai, bisa dikendalikan.

Ketika kita tertarik secara pikiran dan perasaan pada seseorang, bahkan di luar kendali kita, apa boleh buat. Ya dirasakan saja. Tapi ketika kita membuat keputusan untuk berbuat, itu bisa kita kendalikan. Will you or will you not do something about it? That's the one that counts.

tolerate it?
Karena sudah memperisai diri dengan kalimat "i don't tolerate it" ya saya tidak toleransi dengan perilaku ini. Apalagi perilaku ini dilakukan terhadap saya. Beruntung, saya tidak pernah mengalami hal ini, i never date dishonest man.

Sementara beberapa orang di sekitar saya tampak tidak terganggu dengan perilaku ini. Bahkan, akrab dengannya. Kalau dari sisi pelaku, saya tidak peduli lagi alasannya. Sudah jelas bagi saya, apapun alasannya its one thing i don't tolerate. Tapi, yang membuat saya masih terpikir-pikir sampai sekarang adalah alasan beberapa teman perempuan saya to take them back.

so, why they take them back?
Sempat mengobrolkan soal ini, dengan beberapa yang mengalaminya, mereka menjelaskan dengan rigid. Dan saya mendengar dengan seksama, dengan takjub, dengan tidak percaya. Mulai dari sudah terbiasa, malas mencari pasangan baru, si dia menyesali perbuatannya dengan sangat, masa depan si dia yang tampak memadai sehingga sayang untuk dilepaskan, sudah dekat dengan keluarga, sampai sudah terlanjur hamil.

Tapi dari semua alasan itu, yang saya dengar hanya: cinta. They were madly in love with that person. That's why they take them back. Beruntung sekali, mereka yang mendapatkan kesempatan kedua.

Tapi apalah yang saya tahu, saya belum pernah makan caviar. Dan kalau memang saya tahu efeknya akan buruk, saya tidak perlu juga coba atas nama penasaran atau hanya karena saya bisa.


ps.
*kalau saya punya waktu (maklum lagi deadline), ingin sekali menggali ini dari kacamata psikologi. atau jika ada yang berkompetensi soal ini, ditunggu komentarnya. sangat menarik. why people cheats.
*my deepest condolence to those who become victim of this humane yet insane thing.

You Might Also Like

20 comments

recent posts

Dear you,

Be a Creator, Today!

Be a Creator, Today!
Click at the Image to know how you can earn money from writing!

Google+ Followers

Subscribe