choosing side is childlike



"nope, i will not explaining myself to anyone ever again. tired of trying to make myself look good. maybe i am not good. and its okay. to hell with self image." - #isay
(and i love you, megamind, coz you're forced to be a villain)

"What the hell am i doing?" melintas di kepala saya sesaat setelah saya menutup mulut. sesal langsung menyergap. saya pikir, apa-apaan saya barusan? beberapa baris kalimat saya lumat lalu muntahkan jadi satu paragraf cerita. orang bilang itu wajar, semacam curhat. tapi untuk hal yang satu ini, saya mestinya enggak usah membuka mulut.

dia menanggapinya dengan wajah datar. matanya sedikit bergerak menjauh dari tatapan saya. saya tahu apa artinya. mestinya saya bisa prediksi sebelumnya. sama sekali tidak ada rasa untuk menyalahkan dia. yang ada, respon itu jadi cermin yang paling jujur. semestinya saya tutup rapat-rapat mulut saya.

beberapa kali saya kisahkan soal ini, pada beberapa sahabat yang kebetulan ada di dekat saya ketika kejadian itu menimpa. pacar saya juga kena curhatan. malam ketika saya ceritakan itu, saya dapat respon yang sama. matanya bergerak menjauh dari tatapan saya. lebih lugas lagi dia bilang, "jangan terlalu banyak ngomongin soal ini, saya enggak mau terpengaruh secara personal," kata dia.

sesaat saya ingin teriak tepat di telinganya dan bilang "ARE YOU KIDDING ME? WHO'S SIDE ARE YOU?" tapi itu hanya terjadi kalau saya tokoh komik. saya tarik napas panjang, mencoba memasukkan oksigen ke otak. lalu bisa berpikir jernih. okay, ini memang masalah saya, personal, bukan dia secara personal. tapi hati anak sma saya berharap, dia membetuk klub untuk mendukung saya dan mengumpulkan semua anak lain di sekolah untuk jadi ally saya. but well, saya menghargai dia dan kacamatanya akan keadilan di dunia yang tidak adil ini.

saya tidak pernah membicarakan ini dengan teman dekat saya yang lain. buang waktu. makanya malam itu, saya juga heran, kenapa bisa-bisanya saya mengungkit masalah tidak penting ini kepadanya. dan mendapatkan respon yang sama yang pernah saya rasa. ternyata, butuh dua kali bercermin wajah di muka orang lain baru saya mengerti.

pengalaman yang serupa tapi tak sama saya lami beberapa minggu lalu. dan membuat saya menyesal sampai sekarang. dan kesemuanya baru saya sadari malam itu, dari wajahnya, dari matanya. hal yang sebelumnya sudah pula saya ketahui, tentang diri saya.

i see things in black and white. saya akan memihak pada mana yang saya pikir benar. pada mana yang secara prinsip patut untuk saya bela. pada mana yang saya pikir menrasakan ketidakadilan berlebih di dunia yang tidak adil ini. there, i said it, i choose side!

karena itu yang saya tahu. kita berdiri di belakang apa yang kita percaya benar. tidak menyalahkan yang lainnya, hanya saja lebih menyakini apa yang kita bela. saya memihak. dan karenanya, saya dirudung masalah. dalam dunia sosial di usia saya yang sekarang, tampaknya memihak itu hanya membawa kita pada masalah. yakin teguh pada satu prinsip membuat kita berbentur keras dengan orang lain dan berakhir pada masalah. and i realize, maybe choosing side is very childlike.

therefore, i am childlike. dan persetan, saya tidak merasa harus menjelaskan diri saya pada siapapun lagi. dulu saya takut dibenci. takut terlihat tidak baik. takut terlihat seperti orang yang bla bla bla bla bla. terlalu banyak ketakutan. to hell with self image. i am choosing my side and i am eating the consequences.




...

Comments

  1. sriously. this one is good for you.

    ReplyDelete
  2. really? lalu mengapa aku selalu terlibat masalah tidak penting yang aku enggak mau terlibat di dalamnya, yah? *ihiks. curhatt* :))

    yah, old habits die hard :p

    ReplyDelete
  3. mungkin itu konsekuensi dari keputusan yang udah diambil Cil.

    ReplyDelete
  4. iyah, that is the consequences i have to eat *dimakan, krauk krauk, lapar* hehehe :p

    ReplyDelete

Post a Comment