fiksi

12:01 PM

"Truth is stranger than fiction.
But it is because fiction is obliged to stick to possibilities.
Truth, isn't."
-marktwain



"Dag..dig..dug...dag..dig..dug," semakin lama semakin kencang. cuma itu yang saya dengar. dan itu, mengganggu di telinga.





Kalau bisa saya keluar dari tubuh saya, bisa saya lihat. sore itu, langit masih biru. sementara orang masih sibuk berlalu-lalang. di jalan kecil ini, di perempatan ini, masih banyak ibu yang berbelanja di pasar belakang. hanya beberapa meter di belakang saya. sementara kendaraan, juga ramai melintas. sesekali bel sepeda berdering, karena hanya itu satu-satunya yang terdengar di telinga saya, sayup-sayup, dengan kecepatan yang diperlambat sepersekian detik.

saya pernah meminta waktu berhenti. seperti pagi itu, ketika kamu menatap saya. menatap saya dengan matamu yang sayu. membuat saya merasa saya adalah satu-satunya perempuan di dunia. seperti sore itu, ketika tanganmu menggenggam tangan saya. membuat jantung saya berdebar. seperti malam itu, ketika kita berlama-lama ngobrol di telepon. saya minta waktu berhenti untuk saya. tapi, dia, siapapun yang berkuasa atas waktu, tidak mengabulkannya.

masih di tempat yang sama, suara yang sama saya dengar, perasaan yang sama, jantung yang berdetak sama kencangnya. saya bersyukur, manusia tidak usah mengatur kedipan mata dan napasnya sendiri. tidak terbayang, saat ini, saya bahkan tidak punya tenaga mengatupkan bibir. apalagi untuk mengatur napas, apalagi untuk mengatur kedipan mata. saya bahkan tidak yakin apakah mata saya berkedip atau tidak.

saya juga tidak yakin apa yang saya lihat. mata saya mengarah lurus ke depan. tapi tak ada satu objekpun saya tangkap. semua percakapan, gerak matamu, tanganmu di depan wajahku, tawamu, lalu wajahmu yang mulai serius, ketika kedua tanganmu menutupi wajahmu yang tirus, semuanya berputar kembali tepat di depan mata saya.

saya pikir saya akan menangis. tapi saya bahkan tidak punya tenaga untuk memerintahkan otak untuk menangis. saya mulai merasakan, kedua lutut saya lemas, tapi saya tidak tahu apa yang seharusnya saya lakukan dalam keadaan seperti itu. saya pikir saya akan ambruk. karena saya mulai merasa tubuh saya sangat ringan. kepala saya seperti terlepas dari leher. dan langit, terlihat sangat menyilaukan mata. langit di sore itu mulai jingga.

"yuk, kita pulang," katamu sambil meletakkan tangan kananmu di pundak saya, perlahan. lamunan saya buyar, seketika lutut saya terasa sangat lemas, terlebih ketika wajahmu begitu dekat di depan hidung. kamu tersenyum. tapi matamu tidak bisa bohong. saya tahu. saya kenal kamu.

"kenapa balik lagi?" kata saya perlahan. saya bisa rasakan pipi saya panas. saya mulai panik, karena merasa wajah saya memerah. saya tidak yakin berapa lama saya berdiri di simpang jalan itu. saya tidak yakin apakah kamu sudah berjalan jauh lalu kembali. atau kamu memang hanya berdiri di tempat yang tidak terlihat dan memerhatikan saya. seperti orang bodoh berdiri di sana sibuk dengan lamunan. saya malu.

"saya mau antar kamu pulang," katamu sambil menggandeng tangan saya. sambil mengatakannya kamu tak mau menatap wajah saya. tapi saya tahu, kamu hanya berpura-pura tampak tegar.

"saya bisa pulang sendiri. masak kamu sudah jauh-jauh tiba-tiba balik lagi? kalau saya tadi sudah pulang, kamu mau apa?" kata saya dengan nada tinggi. gengsi. tapi genggaman tangan saya kencangkan.

"saya tahu," jawabmu singkat. "saya tahu kamu pasti masih berdiri di situ. saya tahu kamu," kata kamu sambil menolehkan muka ke kiri dan ke kanan. melihat kalau-kalau banyak kendaraan melintas, karena kita mau menyebrang. kebiasaanmu. kamu yang percaya kalau semua perempuan di dunia sangat buruk dalam menyebrang jalan. kamu yang merasa kalau membantu perempuan menyebrang jalan adalah kewajiban.

saya diam. pikiran saya kosong. detak jantung saya semakin kencang. lalu melambat ketika angin sore itu meniupkan wangi parfum dari lehermu. saya mulai merasa tenang. sampai bangku-bangku itu terlihat. bangku di mana kita biasa duduk menunggu angkutan. di mana kamu selalu menemani sampai angkutan terakhir datang. karena hanya angkutan terakhir yang boleh membawa saya pulang. dan melambaikan tangan. lalu kamu akan menatap sampai saya lepas dari jarak pandang. itu penting, bagimu. aku tahu. aku tahu kamu.

seorang sopir mendekat, "ini yang terakhir, neng," kata dia. saya pikir dia hafal, kebiasaan kita. dan dia terlihat tidak terganggu dengan itu.

"saya harus pulang," kata saya pelan. saya tidak berani menatap matamu.

"hey," kamu bilang. sementara saya tetap menatap kosong ke depan. "hey," katamu lagi. saya tarik wajah saya mengarah padamu, mengisyaratkan saya belum kehilangan pendengaran.

"mungkin kita bisa. mungkin saya akan berkunjung. enggak sering. tapi mungkin. mau coba?" kamu terbata. sementara saya mengerenyitkan dahi. di kepala saya berputar potongan-potongan gambar bersuara. kamu dengan semua racauanmu tentang betapa kamu ingin pergi dari kota ini. racauanmu tentang hidup yang baru. diri yang baru. sejarah baru. memotong rantai masa lalu.

sementara saya yang tidak mau menghabiskan waktu menunggu. berharap pada sesuatu yang tak pasti. mendoakan sesuatu yang nyatanya mustahil terjadi. terlalu banyak gambar, terlalu banyak suara, sampai akhirnya entah perintah dari sel otak yang mana, saya mengangguk.

"ya sudah, pulang, nanti ibu nyariin," kamu bilang. seperti robot, saya menurut. saya naik, duduk, dan melambai. seperti biasa. kamu mengantarkan kepergian saya dengan tatapan. terus, sampai saya tidak tertangkap pandang. dan entah sampai berapa lama kamu berdiri di sana. saya tahu kamu akan berdiri di sana. saya tahu. saya tahu kamu.

hanya beberapa jam saja. ketika saya ambruk di lantai kamar. ketika saya merasa lutut kaki saya terlalu lemas. telepon berdering. kamu meralat semua yang kamu ucapkan tadi ketika langit belum gelap. kamu bilang, setelah kamu pikirkan lagi, rasanya tidak mungkin. saya masih muda, kamu bilang. saya masih punya banyak kesempatan untuk merasa, untuk jatuh cinta. sementara kamu merasa sudah cukup. kamu terbata, tapi saya tahu semua yang mau kamu katakan sudah ada di kepala kamu. saya tahu kamu.

untuk mempersingkat waktu, agar kamu tidak perlu mendengar isak tangis saya. saya katakan saya setuju. tanpa rasa sakit hati, tanpa berbelit lagi, saya katakan, kalau saya juga merasa lebih baik begini. keputusan siang tadi paling tepat. sore tadi hanya karena senja, membuat penilaian kita kabur, terlalu larut dalam perasaan.

sesaat sebelum saya tutup telepon, saya katakan, "sukses yah, di sana. saya juga mau jadi orang sukses dan.... bahagia." kamu merespon dengan dehamanmu yang khas. saya tahu mata kamu berair. tapi saya juga tahu kalau kamu tidak menyesal. saya tahu. saya tahu kamu. kamu juga tahu kalau saya tersenyum, walaupun mata saya berair. dan saya akan baik-baik saja. karena kamu tahu saya.

karena kita tahu. baik saya, atau kamu, tidak suka ditinggalkan. karenanya, dengan berbagai cara, kita saling meninggalkan.



....



"in fiction, the author can really tell the truth without humiliating himself."
-jimrohn

You Might Also Like

11 comments

recent posts

Dear you,

Be a Creator, Today!

Be a Creator, Today!
Click at the Image to know how you can earn money from writing!

Google+ Followers

Subscribe