refused to be happy


"cita-cita? bahagia,"

Tidak lama setelah mengatakan itu, yang saya terima hanya mata yang menyipit dan dahi yang mengerenyit. Hanya kejadian sederhana yang membuat saya berpikir kalau jawaban saya salah. Pola pikir saya salah. Cita-cita saya salah. Sejak saat itu, saya selalu menjawab "dokter" kalau ditanya apa cita-cita saya.

Sekolah Dasar memang tidak mudah, pikir saya. Seperti ketika saya dimarahi karena memakai spidol merah untuk menulis. Katanya hanya guru yang boleh memakai spidol merah. Seperti ketika saya bilang saya mau jadi detektif. Seperti ketika wajah ibu guru memerah karena malu atau senang ketika diberi uang oleh salah satu orang tua murid. Semuanya membuat saya berpikir dan menyimpan semua yang saya pelajari, sendiri. Karena menanyakan "kenapa" biasanya malah membuat saya terlibat masalah.

Setiap Jumat, seperti hari ini, saya sering melamun di depan jendela kelas. Entah mengapa waktu SMP seringkali hujan di hari Jumat. Apalagi menjelang shalat Jumat. Saya sering melihat keluar dari ruang kelas, terang lalu mendung, lalu terang berbinar-binar. Mungkin sejak itu mata saya sudah silindris. Tapi tidak pernah ke dokter mata. Langit jadi terlihat seperti anime, terang dan berbulir-bulir cahaya beterbangan. Tidak jarang, saya suka meneteskan air mata. Biasanya karena merasa kesepian. Padahal teman-teman saya banyak, sedang mengobrol di luar.

Akhirnya saya menemukan kumpulan buku puisi dan buku kosong yang bisa saya tulisi apa saja. Saya mulai menulis, semua hal yang membuat saya berberat hati, melamun sendiri, dan merenung di depan cahaya lilin. Ibu saya memang tahu dia melahirkan anak yang super dramaqueen. Sejak itu, saya merasa teman-teman di sekeliling lebih mengerti saya. Dan itu penting untuk anak SMA. Tapi bukan karena saya membuka diri. Justru karena mereka membaca semua yang saya tulis. Setiap hari tulisan saya menjadi penghilang bosan di keseharian pelajaran sekolah. Apalagi fisika.

Beruntung saya kuliah di tempat saya kuliah dulu. Kampus menawarkan banyak wadah untuk saya menghilangkan kebosanan. Dan mengalihkan pikiran. Dari perasaan kesepian. Saya punya banyak kegiatan, teman, kenalan, pengalaman. Tapi setiap kali perjalanan pulang - pergi rumah ke kampus dan sebaliknya. Saya kembali terbenam pada pikiran-pikiran. Di sana, di balik jendela bus kota.

Di umur 25, yang saya pikir saya harusnya sudah (minimal percaya sudah akan) bahagia. Ternyata saya mendapati diri saya duduk di balik jendela besar di lantai 14. Memerhatikan gerakan awan mendung beriring mendekat. Jalanan kota yang selalu padat. Dan hembusan AC yang saya tahu suatu hari akan benar-benar membuat saya sakit. Masih memikirkan satu hal itu. Cita-cita saya. Yang rasanya masih jauh saja.

Untuk anak yang berasal dari keluarga biasa-biasa, dari kota kecil, latar belakang pendidikan keluarga yang cukup minim, kalau menurut ibu saya sih, harusnya saya lebih banyak bersyukur. Atas semua yang saya punya, saya bersyukur. Tapi kalau semuanya bisa ditukar untuk tidak memiliki pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan mengganggu ini, akan saya tukar.

Sadar punya pemikiran seperti ini. Saya mulai berpikir. Mungkin, bukannya saya tidak bahagia. Tapi mungkin saya menolak untuk bahagia. Karena saya harusnya sudah (minimal percaya sudah akan) bahagia.

Comments

Post a Comment