Apa iya, lama kerja di tempat yang sama itu bahaya?

7:47 PM

5 respon teman atas jawaban saya ketika ditanya “masih kerja di situ?”


MASIH.

Saya pikir saya pembosan. Ada ceritanya lagi makan tiba-tiba berhenti bukan karena kenyang. Tapi bosan. Lagi baca buku lalu dilempar, bosan. Jadian dua bulan minta putus, bosan. Di tengah-tengah dengerin lagu, udahan, bosan. Kalau soal kerjaan?

Setelah magang di harian Seputar Indonesia (Sindo) Jabar dan radio Female Bandung, pekerjaan pertama saya itu di harian Pikiran Rakyat Bandung. Di sana saya jadi contributor tetap rubrik mingguan buat remaja, namanya Belia. Waktu itu kerjanya sambil skripsi. Buat mahasiswa Jurnalistik pekerjaan ini menyenangkan sekali! Apalagi saya juga suka bidang pendidikan. Setiap minggu bikin laporan utama yang temanya pendidikan atau seputar kehidupan remaja. Juga, meliput sekolah-sekolah di Jawa Barat sampai pelosok! Bertemu banyak remaja berprestasi dan bersemangat yang matanya berbinar penuh harap pada masa depan. Oh, jiwa muda.

Begitu lulus, hijrah ke Jakarta karena pengen jadi editor majalah, di umur 25. Waktu itu ambisius sekali. Banyak yang bilang kecil kemungkinannya bisa naik jadi editor di usia segitu. Melihat banyak editor atau redaktur di media umumnya sudah senior, minimal tiga puluhan. Ya, namanya juga darah muda.

Awalnya, kalau boleh milih, waktu dipanggil sama Kompas Gramedia Majalah, pengen kerja di majalah Intisari atau National Geographic Indonesia. Tapi diwawancarai untuk majalah Instyle dan akhirnya diterima di majalah kaWanku. Awalnya ragu, karena enggak suka artis remaja. Tapi kemudian banyak banget pengalaman luar biasa sebagai reporter kaWanku. Yang enggak akan saya tuliskan sekarang, karena ini kayaknya akan jadi tulisan terpisah dan akan panjang sekali.

Anyway. Masuk kerja akhir 2009, sebagai reporter, usia 23 tahun. Mulai bosan setelah satu setengah tahun. Mulai cari-cari pekerjaan lain. Tapi kemudian dipindah pegang website, tertantang lalu menikmati. Mulai bosan lagi satu setengah tahun kemudian. Mulai cari-cari pekerjaan lain. Lalu diangkat jadi editor. Di usia 26. Ya udah lah ya, telat setahun. Lalu menikmati. Lalu kemudian kembali bosan.

Manusia. Yang. Lemah. Dan. Pembosan.

Mungkin karena sebagai editor lebih banyak di kantor dan rapat dan mengurus ini itu. Keseruan liputan sudah berkurang hingga 90 persen. Kalau enggak bisa dibilang 100 persen. Mungkin karena…. Kayaknya bakal panjang.

“Masih di kaWanku?” Tanya teman yang enggak tahu udah berapa kali pindah kerja sejak saya kenal dia. Mungkin lebih dari lima. Pertanyaan ini juga sering muncul dari orang lain yang saya temui. Pastinya di awal obrolan sekadar memastikan, takut salah informasi. Tapi kalau udah datang dari rekan-rekan terdekat, ketika saya jawab “masih,” begini 5 respon mereka;

Enggak mau pindah?
Kayaknya betah banget?
Udah berapa lama?
Udah comfort zone, yah?
Mau sampai kapan?
Wah, makin susah nyari kerjaan baru, tuh!

Setela ditulis, kok nadanya enggak ada yang positif yah? Memang, sih, pernah ada temen yang bilang, bahaya kalau kita stay di pekerjaan yang sama lebih dari lima tahun. Bahaya, lho, dia bilang!

JANGAN-JANGAN ADA YANG SALAH DENGAN SAYA.

**Browsing

Dalam usaha membuat tulisan ini enggak terasa seperti pembenaran, saya mulai dengan, hidup adalah pilihan. Yaelah. Klise.

Gini, deh, biar enggak kayak pembenaran, tiap durasi stay di pekerjaan yang sama ada kekurangan dan kelebihannya. Ini bukan kata saya, lho. Kan kalau kata saya, hidup adalah pilihan, yang klise tadi itu. Ini kata Terina Allen yang tulisannya saya temukan di LinkedIn Pulse.

Menurt CEO ini, ada tiga macam pekerja; job hopper, steady employ, dan job clinger.

Job hopper itu enggak pernah stay di satu perusahaan lebih dari 18 bulan.

Steady employ itu yang mengerjakan pekerjaan di jalur yang sama dalan sebuah perusahaan dengan durasi kerja dua hingga empat tahun. Atau lebih, dengan catatan ia mendapatkan promosi dan kenaikan salary.

Job clinger itu yang mengerjakan pekerjaan yang sama di perusahaan yang sama tanpa ada perubahan tanggung jawab dan kenaikan salary selama lebih dari lima tahun.

NAH. LHO.

Tulisan Terina Allen ini lebih fokus ke job clinger. Pas seperti pertanyaan saya di atas. Soal diri saya. Yang mungkin salah itu. Karena saya masih di perusahaan yang sama, sekarang lebih dari lima tahun.

Tapi kalau baca pengertiannya, maksudnya adalah yang enggak ada kemajuan. Kalau saya memasukkan diri sendiri ke dalam kategori yang dibuat Terina Allen ini, saya masuk ke steady employ. Sejak masuk, mendapatkan promosi dan kenaikan salary. Penambahan dan pengurangan tanggung jawab. Maklum, banyak mencoba metode kerja yang pas. Jadi, enggak bahaya juga, sih.

Tapi, bisa jadi bahaya kalau saya masih di posisi yang sama sampai dua tahun ke depan. Bisa-bisa masuk ke kategori job clinger. Kenapa bahaya? Ada tiga alasan.

Satu; Semakin lama kita di satu posisi, semakin kecil kemungkinan kita dapat promosi. Ketika kita enggak terlihat menghargai kemampuan kita sendiri, orang lain juga akan ikut melihat kita seperti itu. Amen sister!

Dua; Menerima salary dari lebih kecil daripada mereka yang resign dan mencari pekerjaan baru. Karena kalau hanya mengharapkan kenaikan tahunan itu bagaikan mengharapkan melihat unicorn di Meruya.

Tiga; Kalah sama karyawan baru yang lebih bersemangat di mata atasan. Sekali lagi, jiwa muda.

OH MAMA. OH PAPA MOMENT.

Udah mau lima tahun di posisi yang sama juga? Kudu piye? Tenang, kamu enggak sendiri. Teman saya banyak kok yang begitu. Maaf ya, saya masih punya dua tahun lagi. Sungguh. Sombong. Yang. Tak perlu.

Namanya juga pendapat dan teori. Tentu saja ada tandingannya, kan? Seorang IT Recruiter yang namanya Joe Shelton bilang, enggak ada tuh yang namanya resign hanya gara-gara kelamaan kerja di tempat yang sama, padahal kita suka sama pekerjaannya. Yang penting adalah kita terus memperkaya pengetahuan dan kemampuan kerja. Pastikan kalau keahlian kita relevan sama dunia luar bukan sama perusahaan aja. Gitu dia bilang, ketika saya baca di Lifehacker.com.

Sekarang pertanyaannya adalah; apa yang bisa kita lakukan guna memperkaya pengetahuan dan kemampuan kerja, while, bekerja di posisi dan tempat yang sama?


Kemudian, hening.

You Might Also Like

1 comments

recent posts

Dear you,

Be a Creator, Today!

Be a Creator, Today!
Click at the Image to know how you can earn money from writing!

Google+ Followers

Subscribe