Bagaimana Perempuan Malas dan Kurang Referensi, Mempersiapkan Resepsi Pernikahan di Bandung dengan Dana Terbatas

5:50 PM

5 cara mempersiapkan resepsi pernikahan dengan dana terbatas


Teruntuk semua blog yang saya singgahi ketika saya mempersiapkan resepsi, saya sampaikan terima kasih. Ini adalah sebuah tulisan pay it forward yang saya janji dalam hati harus buat. Kepada semua calon pengantin yang sedang mempersiapkan resepsi pernikahan, hang in there. Semuanya akan segera berlalu.

Kenapa yang mempersiapkan resepsi pernikahan ini perempuan malas dan kurang referensi? Bisa baca disini. Jadi, paham lah ya, kenapa saya enggak punya resepsi pernikahan impian. Boleh ditengok isi Pinterest saya, enggak ada foto gaun, buket, dekor, cincin, atau apa pun yang berkaitan dengan resepsi. Kenapa ini jadi patokan? Soalnya banyak banget teman perempuan yang isi Pinterest-nya bertema ini. Mulai dari yang memang lagi persiapan, sampai yang persiapan menyapa bakal calon gebetan. It’s like an obsession! Tapi bebas. Beda ladang, beda belalang. Maaf, enggak tahu ungkapan yang cocok lainnya dalam Bahasa Indonesia.

Mari kita bahas.

Dari hasil browsing, ngobrol, dan pengalaman menyelenggarakan resepsi pernikahan Sepetember 2015 lalu, ada 5 cara mempersiapkan resepsi pernikahan dengan dana terbatas. Terbatas itu berapa? Percaya atau enggak, di Cimahi ada vendor yang menawarkan paket lengkap (catering, makeup, dekor, foto, undangan) untuk seribu porsi, artinya 500 undangan, seharga Rp25 juta (harga tahun 2015). Jadi resepsi itu mengikuti budget, pasti bisa aja dan ada aja kok vendornya. Tapi ya memang maunya bikin resepsi seperti apa? Lalu, kok Cimahi? Di judulnya Bandung? Takutnya kalau saya tulis Cimahi, kurang familiar dibanding Bandung. Dan pada karena akhirnya saya memakai vendor di Bandung yang saya tarik ke lokasi resepsi di Cimahi.

Satu.
Tentukan budget.
Baca: Relanya ngeluarin uang berapa untuk acara satu hari.
Oke, dana kita terbatas, tapi budget-nya berapa? Kalau memang mengeluarkan uang sendiri, berapa yang rela dikeluarkan? Kalau memang dibantu orang tua, berapa yang akan diberikan? Berapa yang bisa kita dan pasangan mau tambahkan? Atau kalau mau pinjam di bank, mendingan sih, enggak usah. Saya pernah ikut kelas “mempersiapkan budget untuk pernikahan” dan meminjam ke bank enggak disarankan. Semampunya saja. Kalau sama sekali enggak mampu, bujuk keluarga untuk menerima kita dan pasangan untuk akad saja. Yang penting sah. Kalau menurut saya. Dan pengajar waktu itu.

Setelah tahu dana kita terbatas, bisa mulai menerima kenyataan. Dana terbatas yang saya maksud dalam tulisan ini adalah kisaran seratus jutaan. Boleh sedikit kurang atau sedikit lebih. Kalau kurang, bisa dikurangi lagi aspek resepsinya dari apa yang saya buat di resepsi saya.

Dana terbatas itu artinya kemungkinan enggak pakai Wedding Organizer, karena itu biaya tambahan. Artinya, lupakan tema-tema unik ala Pinterest karena itu jatohnya lebih mahal daripada pernikahan yang “umum.” Kecuali kalau mau DIY sana-sini alias buat sendiri. Artinya, enggak usah banyak liat Instagram pernikahan para seleb atau rajin datang ke pameran pernikahan karena bisa membuat makin BM (banyak maunya). Mari, kita, menapak di tanah, sahabat sekalian.

Dua.
Tentukan jumlah undangan sesuai budget.
Baca: Dana terbatas artinya banyak orang yang enggak diundang.
Dari situ, kita bisa membayangkan jumlah undangan. Keluarga besar harus masuk daftar undangan yah, kalau dana terbatas. Supaya makanan enggak kurang. Dari berbagai website vendor dan pamphlet yang saya lihat, saya bisa membayangkan harga makanan per porsi dan dikalikan jumlah undangan yang akan sesuai budget. Harga per porsi sangat beragam. Mulai dari Rp28 ribu sampai ratusan ribu.

Saya sempat mempertimbangkan tiga vendor catering di Bandung. Saya urutkan sesuai dengan kecenderungan saya memilih ketika itu.
Soewardono by Vindo
Wulandarie

Ada banyak banget vendor catering. Vendor pertama pernah dipakai oleh sahabat saya ketika menikah. Karena saya jarang sekali datang ke resepsi, saya kurang suka datang ke resepsi, kecuali kalau itu pernikahan orang terdekat, jadi referensi vendor catering saya sangat minim. Tapi prinsip saya sih, enggak usah banyak pilihan yang enggak jelas. Lebih baik sedikit tapi pasti.

Vendor ke-dua ini pemiliknya adalah adik vendor pertama. Masuk pilihan karena dari segi rasa mirip dengan yang pertama. Harga lebih murah dan dekor lebih sederhana. Vendor ke-tiga adalah catering yang dipakai dalam pernikahan kakak saya beberapa tahun sebelumnya. Dari segi rasa cocok, dekor minimalis tapi cukup banyak pilihan, dan menurut kakak saya, pelayanannya memuaskan.

Vendor pertama minimal pemesanan seribu porsi dan harganya paling tinggi. Sebenarnya harga berbanding dengan rasa dan dekor. Karena saya memang mau pesan paket catering dan dekor. Tapi karena enggak cocok dengan dana, saya beralih ke vendor ke-dua. Vendor ke-dua full booked di tanggal resepsi pernikahan saya. Jadi, saya memilih vendor ke-tiga.


Catering Wulandarie memberikan batasan 600 porsi untuk pemesanan minimum. Pas, saya mau menyebar 300 undangan saja, sudah termasuk keluarga. Dekornya cukup, semua bunga asli, dan dia punya gebyok putih yang saya inginkan. Untuk pelaminan ada biaya tambahan sekitar Rp4 sampai Rp8 juta tergantung dekor yang diinginkan. Dan kalau dekor yang termasuk paket terasa kurang, kita bisa request tambahan. Tentunya dengan biaya tambahan pula.

Untuk paket yang saya pesan, saya sudah mendapatkan main course, gubuk (makanan kecil yang terpisah di stand), tenda masuk, karpet jalan, enam pot bunga di sisi karpet jalan, peti amplop, meja VIP, dan ukiran es inisial. Karena saya enggak menambahkan photo booth atau hiasan apa pun, bahkan enggak ada pigura yang memajang foto pre-wed (karena memang enggak foto pre-wed) jadi saya enggak nambah apa-apa lagi. Untuk jumlah menu makanan dan gubuk tergantung harga per porsi yang kita pilih. Range harga Wulandarie itu mulai dari Rp30 ribuan sampai Rp150 ribuan (harga tahun 2015).

**Catering Wulandarie: 08122391754 - 0226017757 - 022 6032458 - 022 6034943

Tiga.
Tentukan venue sesuai budget.
Baca: Kalau ada tempat yang bisa gratis, pilih itu aja.
Masih berpegang pada budget, kita bisa memilih venue. Di Cimahi, lebih banyak gedung tentara yang biasa dipakai untuk resepsi. Range harganya mulai dari Rp5 juta sampai Rp13 juta. Beberapa gedung yang sempat saya tanya:

Suparman, Baros Rp5 juta
Pusdik Armed, Baros Rp 7,5 juta
Pussen Arhanud, Sriwijaya Rp13 juta
Pusdik POM, Baros Rp 10 juta
The Historich, Baros Rp10 juta
Pusdikter, Gadobangkong Rp7 juta

Saya memang sengaja mencari venue di Cimahi Selatan supaya dekat dari pintu tol Baros. Jadi sebagian besar tamu enggak kena macet. Cimahi macet sekali kalau weekend soalnya. Setelah mempertimbangkan harga, lokasi, kapasitas, dan keadaan gedung, saya pilih Pusdik Armed. Harga sewa yang diberikan sudah termasuk uang keamanan, listrik, satu blower, dan 100 kursi, panggung pendek untuk pengisi acara, sound system dasar (bukan untuk musik live, hanya speaker dan standing mike). Belum termasuk uang kebersihan yang dibayar 50-50 dengan catering dan jika mau menambah blower atau sound system tambahan, harus dari gedung.

Venue, gedung Soedirman Pusdik Armed
Yang printilan gini nih yang jangan lupa ditanyakan. Bisa jadi sewanya murah tapi banyak tambahan atau kena biaya lagi kalau pakai vendor dari luar. Beberapa gedung juga punya paket sendiri, kalau mau lebih praktis bisa dicoba tapi pastikan kenal sama yang pernah nyoba sebelumnya untuk mengurangi faktor kejutan. Karena umumnya vendor rekanannya udah fixed dan minim portfolio. Ini sih yang mengagetkan dari nyari berbagai vendor resepsi yang terjangkau. Banyak yang enggak punya website atau social media, enggak bisa dilihat portfolionya, hanya dari mulut ke mulut. Kadang bikin deg-dengan kayak beli kucing dalam karung kadang rasanya. Sabar, yah.

**Gedung Pusdik Armed: 081561441538 (bang John)

Empat.
Tentukan aspek mana yang utama.
Baca: Enggak ada aspek ini, enggak ada resepsi.
Dengan dana terbatas sebenarnya kita bisa punya semua aspek dalam resepsi. Semuanya tergantung harga yang mau kita bayar. Kalau mau dapetin semua ya pilih yang murah-murah sesuai budget per aspek. Kalau ada yang mahal, jadinya seperti menyusun puzzle. Bedanya yang disusun di sini adalah antara aspek resepsi dengan dana. Ketika biaya yang kemungkinan harus kita keluarkan (harga vendor yang kita pilih) melebihi budget, berarti harus membuat daftar: mana yang utama dan mana yang bisa dihilangkan.

Buat saya yang utama adalah:
Makeup
Fotografer
Catering

Catering udah dibahas di atas, jadi patokan budget untuk aspek resepsi lainnya. Lalu, vendor makeup dan fotografer yang saya sewa ternyata jauh melebihi perkiraan awal. Tapi harus dibelain soalnya penting. Kenapa dua vendor ini penting? Pertama, saya jarang dandan, di hari pernikahan saya enggak mau terlihat menor seperti wayang. Banyak sekali vendor makeup yang hasilnya kayak gini. Manglingi, katanya. Buat saya sih serem. Dan nanti kan difoto, fotonya dipajang. Kenang-kenangan seumur hidup.

Setelah tanya sana-sini, untung teman saya yang mau menikah di bulan yang sama hanya terpaut dua minggu, kemampuan mencari referensinya jauh lebih canggih. Dia merekomendasikan vendor makeup yang akan dia pakai juga, Ayung Berinda. Ketika datang ke galerinya, melihat koleksi bajunya cocok. Saya suka yang sederhana dan terasa modern. Ditambah saya mau calon suami pakai jas, bukan beskap. Setelah fitting, nemu yang cocok. Karena dana terbatas tadi, saya enggak sewa perdana (dibuatkan baju baru sesuai keinginan tapi nanti dikembalikan untuk dipakai pengantin lain). Sewa perdana umumnya ada biaya tambahan sekitar Rp3 juta ke atas.

Makeup cocok. Baju cocok. Supaya enggak ribet, saya pilih paket makeup lengkap: makeup akad, baju akad, makeup resepsi, baju resepsi, buket bunga, baju orang tua, 4 baju untuk kakak, 2 baju untuk pager ayu/bagus. Namanya juga perempuan malas. Kalau enggak paket, repot lagi nyarinya. Apalagi kalau jahit. Beli bahannya, cari penjahitnya, no thank you.

Lalu kenapa foto penting? Karena setelah menghabiskan banyak uang dalam satu hari, yang bisa dinikmati jauh setelah hari H adalah foto. Setelah tanya sama teman yang fotografer, vendor yang lagi terkenal di Bandung harganya luar biasa. Sempat tanya dua vendor, Polar dan Beeas. Keduanya direkomendasikan teman, dan memang ada teman juga yang pakai. Tapi saya mencari yang agak lebih murah tapi hasil foto sama bagusnya.

Tapi kalau fotonya bagus, percaya deh, enggak ada yang murah. Kalau mau yang murah umumnya gaya fotonya standar, ya begitu aja seperti gaya foto resepsi sepuluh tahun lalu, dipaket sama gedung atau WO yang enggak terlalu mahal juga, dan dari pengalaman saya browsing sih mereka enggak punya akun Instagram apalagi website resmi.

Lalu main-main di Instagram nemu RedWhite Photography yang tone warna dan gayanya saya suka sekali. Ini penting, pilih vendor foto berdasarkan tone dan gaya foto mereka soalnya cenderung enggak bisa diubah. Mereka juga ada sesi pemotretan setelah akad. Ini yang saya cari. Karena enggak foto pre wedding, saya mau ada sesi ini. Di luar negri udah biasa dan cukup umum, nih, sesi foto setelah resmi menikah, sebelum resepsi. Mempelai ke luar gedung buat sesi foto berdua aja. Jadi yang keluarganya enggak suka sesi foto mesra pre-wed karena belum ‘sah,’ bisa nih di sini. Enggak perlu bayar makeup, baju, dan lokasi lagi layaknya pre-wed. Tapi ya, enggak bisa dipajang di gedung resepsi pas hari H. Kalau tujuan pre-wed itu ya enggak cocok, ya, he-he-he. Vendor RedWhite ini juga kece sih pre-wednya, cuma saya memang udah bertekad enggak foto pre-wed aja, sih.


Satu hal lagi yang penting, pastikan memilih bahan dan bentuk album dan box foto setelah melihat contohnya. Enggak hanya berdasarkan kata-kata tapi benar-benar melihat katalognya. Soalnya saya jadi bermasalah karena pesan album warna broken white datangnya warna cokelat muda. Menurut vendor broken white memang begitu warnanya kalau di bahan kulit. Tapi karena saya enggak melihat katalognya sejak awal jadi miss communication. Vendor sudah beritikad baik dengan menjanjikan penggantian album, tapi jadi lama lagi, dan belum terwujud hingga tulisan ini diposting, kita tunggu aja. Saya sih, sabar. (*edited: Dan kesabaran pun berbuah manis. Walau menunggu cukup lama, vendor mengganti album dan box sesuai dengan permintaan saya tanpa biaya tambahan. Yeay, thank you RedWhite!).

Oh iya, soal album yang jadinya lama juga udah jadi kisah klasik wedding photographer. Kakak saya juga mengalaminya. Pastikan aja mereka memenuhi janjinya, emang harus rajin nanya sih. Kalau males-malesan kayak saya jadinya agak molor dari perjanjian. Awalnya saya pikir kalau saya jadi client enggak annoying bakal dipercepat, tapi ya mungkin memang harus nagging? Nunggu albumnya sambil santai aja, deh. Tapi kadang kitanya santai, orangtua yang nagging, he-he-he.

**Ayung Berinda: 082118340483 (teh Dessy)
**RedWhite Photography:  082126744176 - 08562172006 (Christine)

Lima.
Tentukan aspek mana yang bisa dihilangkan.
Baca: Enggak ada aspek ini, resepsi tetap jalan, kok.
Karena memilih vendor lain yang melebihi budget tentunya ada yang jadi korban. Beberapa aspek ini saya hilangkan atau akali supaya irit karena memang enggak cocok sama kepribadian saya dan dari kelas mempersiapkan resepsi pernikahan yang pernah saya ikuti itu.

Yang bisa dihilangkan adalah:
Live music
Upacara adat
MC
Pre wedding
Video
Undangan
Souvenir
Mobil pengantin
Photo booth
Seragam keluarga
Seragam bride’s maid & best men

Live Music. Percayalah, saya enggak bisa hidup tanpa musik. Tapi saya sadar kalau musik yang saya suka, bukan musik yang banyak orang suka, dan enggak lazim diputar di resepsi. Saya juga enggak suka banget live music kondangan yang bising dan bikin saya pengen cepat pulang. Apalagi kalau electune atau dangdut. Paling asik akustikan, tapi harganya melebihi budget. Di Cimahi itu sekitar Rp2 juta dan ini enggak pakai tahap audisi, kan. Ya harus lihat di resepsi orang. Apalagi kalau mau live piano, enggak tahu berapa. Dan pengennya penyanyinya suaranya bagus kayak Ed Sheeran. Akhirnya, karena ekspektasi saya tinggi sekali kalau sudah menyangkut ini, dan enggak bisa saya gapai, saya putuskan memutar lagu pakai laptop dihubungkan ke sound system. Mengurangi biaya sound system juga. Sip.

Upacara adat & MC. Menghilangkan upacara adat itu mengurangi biaya sekitar Rp2-5 juta. Belum lagi sawer atau tarik-tarikan ayam dan lainnya yang bahannya harus kita siapkan sendiri (tergantung catering atau bisa jadi dari vendor makeup). MC juga bisa dikurangi biayanya dengan memakai jasa saudara atau teman. Bisa memberikan dana terimakasih yang setengahnya biaya MC resepsi. Vendor catering menawarkan biaya MC mulai dari Rp1 juta ke atas.

Foto pre wedding. Saya belum pernah melihat foto pre wedding orang yang bikin saya berpikir “duh, pengen foto kayak gitu.” Bagi saya hampir semua foto pre-wed itu dibuat-buat dan awkward. Banyak juga pasangan yang mencetak koleksi lama foto mereka berdua, saya punya banyak. Tapi mencetak, membingkai, sewa penyangga bingkai, semuanya biaya.

Video. Saya tanya sama pasangan yang bikin video pernikahan, berapa orang yang menontonnya berulang. Dari lima pasangan, nol yang menjawab mereka menontonnya berulang. Paling sekali ketika baru jadi. Tapi, kalau memang ada biayanya enggak apa-apa banget pakai video. Pengalaman saya, enggak pakai video mengurangi biaya sampai Rp3 juta.

Design by @kiriika
Undangan. Sejak berencana menikah, saya sudah berniat membuat e-card invitation untuk teman dan rekan kerja. Saya pikir ini lebih layak daripada Facebook Event Invitation yang di-tag masal. E-card saya kirim per orang, enggak di grup. Di grup cuma FYI. Orang yang betul-betul saya undang, saya kirim e-card personal, sekalian ngobrol sedikit, lah. Jadi sediakan waktu khusus buat melakukan ini. Saya menghabiskan waktu seharian penuh buat ini. Untuk undangan orangtua baru pakai undangan fisik.

Untuk disain, saya cari contohnya, googling, cari gambar vector-nya di Thinkstock, lalu minta tolong teman membuatnya. Enggak usah mau model macam-macam yah kalau mau minta tolong, kasihan temannya. Undangannya saya cetak di tempat print memakai kertas motif jeruk yang agak tebal. Lima belas menit beres. Karena memang kecil (A5), sehalaman, dan semuka. Amplopnya bikin sendiri, dibantu kakak saya, dari kertas motif jeruk yang lebih tipis, beli di Balubur. Banyak pola amplop DIY yang bisa kita cari di internet. Lalu tambah amplop plastik, deh, selesai. Saya memutuskan ini karena; 100% undangan resepsi akan dibuang setelah dibaca.

Tadinya saya enggak mau pakai souvenir. Karena kalau dari pengalaman saya dating ke resepsi, enggak ada souvenir yang benar-benar dipakai. Coba, apa souvenir resepsi yang benar-benar bermanfaat? Cuma lucu-lucuan aja, enggak, sih? Buat kenang-kenangan pun enggak segitunya. Tapi karena kakak ipar saya menawarkan mau membantu souvenir, saya menerima dengan sangat senang hati. Dia beli di Cibadak, enggak bisa share pengeluarannya karena saya enggak (mau) nanya, he-he-he. Selain itu, kakak ipar juga ngasih kejutan naked weding cake yang saya inginkan tapi sama sekali enggak ada budge-tnya. So happy! He-he-he.


Lainnya. Soal mobil pengantin, photo booth, seragam keluarga, seragam bride’s maid & best men yang enggak saya sediakan kayaknya enggak harus dijelaskan, yah. Resepsi bisa berjalan tanpa semua ini. Jadi, sangat opsional.

Dari pengalaman saya, itu sih 5 cara mempersiapkan resepsi pernikahan dengan dana terbatas. Resepsi itu bisa diwujudkan dengan biaya sesedikit apa pun, yang harus ditekan itu ekspektasi. Apalagi sekarang makin musim resepsi yang simple, sederhana, minimalis, dan hemat. Tapi kalau memang rela mengeluarkan banyak uang atau memang ada suntikan dana, kayaknya harus baca tips di berbagai website pendamping persiapan pernikahan yang sekarang juga lagi banyak bermunculan. Misalnya Bridestory, The Bride Dept, atau The Bride's Bestfriend ini.

Last but not least, kalau lagi stuck, bete, stress, inget aja, habis resepsi ada hanimun. Nyihihihi.

May the force be with you.



***Baca juga persiapan pernikahan teman saya, siapa tahu mencerahkan, di sini:
My DIY Wedding by Ury Ceria

You Might Also Like

8 comments

recent posts

Dear you,

Be a Creator, Today!

Be a Creator, Today!
Click at the Image to know how you can earn money from writing!

Google+ Followers

Subscribe