Jadi, menikah itu, impian siapa?

8:19 PM

Kenapa saya enggak menikah di usia 22



Memangnya siapa yang yang menikah di usia 22? Ibu saya. Dan ada juga beberapa orang yang menikah di usia itu, tampaknya.

Jadi pengantin itu impian Usagi Tsukino
Pertama kali saya sadar kalau perempuan itu umumnya punya impian untuk menikah itu, waktu masih SD. Sekitar kelas dua SD. Pulang sekolah nonton anime favorit sepanjang masa, Sailor Moon. Di salah satu episodenya, Usagi Tsukino si Sailor Moon bilang kalau cita-citanya adalah menjadi pengantin yang cantik dan menikah dengan laki-laki impiannya. Minako Aino si Sailor Venus dan Makoto Kino si Sailor Jupiter juga sama. Ini tentunya di episode awal, sebelum mereka semua sadar kalau impian utama mereka adalah melindungi orang-orang yang dicintai dengan kekuatan super seorang pahlawan Sailor.

Sejak saat itu saya ngeuh. Tiga dari lima perempuan seperti itu. Tapi masih ada juga yang seperti Ami Mizuno si Sailor Mercuri yang lebih memikirkan cita-citanya menjadi dokter, ilmuwan, bahkan astronot. Dan Rei Hino si Sailor Mars favorit saya yang lebih terobsesi menempa diri dan intuisinya juga melanjutkan kewajiban keluarganya menjaga kuil Shinto milik sang kakek.

Dan saya mulai terdengar geeky.

Pacaran itu sementara
Enggak punya role model pasangan menikah yang happily ever after ketika usia saya belasan cukup mempengaruhi pendapat saya soal pernikahan. Sejak pertama kali pacaran pun, kelas tiga SMP, saya selalu berpikir pacaran itu sementara, sampai putus. Ketika jadian, saya selalu tahu, suatu hari saya bakal putus. Sesuka apa pun saya sama si cowok. Enggak ada Prince Charming. Enggak ada the one. Enggak ada jadi pengantin yang cantik yang menikah di Bulan Juni. **Kenapa sih, bisa ada anggapan pengantin bulan Juni pasti bahagia? Ini masih kata Usagi Tsukino. Apalagi di zaman kuliah, kenalan sama banyak pribadi cewek yang mandiri dan enggak bergantung sama cowok. Baru belajar apa itu feminisme. Baru kenal sama teman-teman yang dengan penuturan ilmiahnya mencoba menentang banyak aturan sosial yang udah kuno. Menikah, makin tidak terlihat dalam daftar impian saya.

Jadi, paham lah ya, di usia 22 saya masih menyusun skripsi. Skripsi yang sengaja saya pilih tema yang menyenangkan supaya saya semangat mengerjakannya. Lagi asik bekerja, walau awalnya terpaksa karena uang jajan sudah diputus. Dan lagi asik sama pacar yang hanya berbeda satu tahun yang juga sedang sibuk memikirkan tema skripsinya. Semuanya teratur, sesuai, dan memuaskan. Bahagia. Sama sekali enggak memikirkan soal menikah. Pendapat saya masih sama. Bahkan sampai saya pindah ke Jakarta, LDR, dia menyusul ke Jakarta, SDR. Masih, bukan impian saya.

Impian semua ibu, kan, yah?
Setiap orang berkembang dan menjadi dewasa dalam jangka waktu mereka sendiri. Tampaknya. Bukan karena usia. Dan di usia 28, menikah mulai terdengar masuk akal. Kenapa? Saya sudah bersama pacar hampir selama sembilan tahun, dan mengenalnya bahkan beberapa tahun sebelumnya. Dan ternyata, pacaran yang satu ini, sementara tapi lama. Walaupun harus diakui ada juga pengaruh ibu yang selalu bertanya (baca: memaksa) saya harus segera menikah. Tapi, alasan utama yang membuat menikah itu masuk akal adalah orang yang saya pikir akan menikah bersama saya.

Selama Sembilan tahun, saya sama sekali enggak tertarik sama orang lain. Komunikasi semakin baik. Bisa mengatasi perbedaan pendapat. Bisa menerima kekurangan masing-masing. Dan ada satu momen penting yang saya alami ketika pulang dari screening film The Book of Eli di Plaza Indonesia, saya sedang jalan menuju halte Transjakarta Tosari, seperti biasa saya melamun. Kalau memang dunia ini mengalami apocalypse, saya dikasih dia aja merasa cukup, untuk bertahan hidup. **Setelah saya baca, malah terdengar basi. Padahal pada momennya bagaikan sebuah epiphany. Ha-ha-ha. Ditambah kalau enggak menikah, enggak bisa tinggal bersama. Saya enggak hidup di alam FRIENDS atau Sex and The City, tampaknya.

Dan saya makin terlihat geeky.

Jangan lupakan hormon. Enggak usah disalahkan, sih, asal jangan dilupakan aja. Kombinasi kesemuanya membuat menikah semakin masuk akal. Tinggal ada yang ngajak aja. Iya, kan?

Ternyata impian pacar saya
Pacar sudah biasa saya ajak ngobrol malam ngalor-ngidul. Saya cerita soal pemikiran saya. Soal betapa pendapat saya yang berusia 22 sudah berbeda dengan saya yang berusia 28. Dan ternyata, menikah ada di daftar hal yang ingin dia lakukan dalam hidup. Tapi selama ini, dia menunggu saya menginginkannya juga. Dan di Desember 2014, ketika saya berusia 28, dia mengajak saya plesir ke museum Ulen Sentalu, Yogyakarta.

Setelah tur selesai, kami berdiri di taman belakang. Sudah sore, kami tur terakhir untuk hari itu. Yogyakarta sedang hujan. Dan ketika saya memalingkan muka, dia menyodorkan buket bunga mawar. Ada cincin di bagian tengahnya. Kata dia sih ada cincinnya. Saya enggak bisa menemukannya. Lalu entah bagaimana caranya dia memegang cincinnya, and pop the question. Saksinya cuma patung Dewi Sri. Pacar saya, eh tunangan, memang tipe romantisnya seperti ini.

Lalu ketika saya tanya, “jadi kita beneran mau nikah, nih? Kapan?”
“Dibahasnya 2015 aja, yah. Januari,” kata dia.
“Oke.”


Lalu kami makan. Di café Kebun, Tirtodipuran. Di lantai dua. Di luar, langit sudah gelap dan masih gerimis. Suasana dan keadaannya membuat saya mikir, pacaran itu memang sementara. Kalau enggak putus, ya, nikah. Dan saya, bahagia. Seperti berusia 22.

You Might Also Like

1 comments

recent posts

Dear you,

Be a Creator, Today!

Be a Creator, Today!
Click at the Image to know how you can earn money from writing!

Google+ Followers

Subscribe