Kelas Inspirasi Bandung: Sebenarnya Saya Ini Cuma Melanjutkan Tongkat Estafet Inspirasi



“Find your voice and inspire others to find theirs,” Stephen Covey.

Malam ini saya sadar, kalau yang menginspirasi adalah mereka yang terinspirasi. Pelukis, melukis karena terinspirasi. Penulis, menulis karena terinspirasi. Para pengajar di Kelas Inspirasi juga rasanya begitu. Karena terinspirasi, kita tergerak untuk memberikan yang sama pada orang lain. Melanjutkan tongkat estafet inspirasi.

Kegiatan buat ‘orang biasa’
Sejak awal kegiatan Kelas Inspirasi ini ada, bisa dikatakan saya terpukau dengan gerakannya. Dan saya yakin banyak orang yang merasakan hal yang sama, buktinya, hingga sekarang Kelas Inspirasi ini masih berlangsung di berbagai daerah di Indonesia.

Dimulai dari sebuah kegiatan kecil, meluangkan waktu satu hari untuk mengajar di Sekolah Dasar. Demi sebuah impian besar, meningkatkan angka anak yang melanjutkan sekolah hingga SMA, bahkan universitas. That’s why, kita diminta menjelaskan soal profesi, yang kita bisa raih, setelah sekolah tinggi.

Dan ini bisa kita ikuti, kita, orang biasa, bukan penggiat pendidikan, bukan aktivis. Kita pekerja kantoran yang kadang waktunya habis di kubikel. Atau kita yang sehari-harinya beraktivitas jauh dari sekolahan. Kita, yang terinspirasi sama niatan baik ini, sama gerakan yang kita percaya ada manfaatnya ini, untuk kembali menginspirasi yang lain. Adik-adik di SD tepatnya.


#ReboNyunda, pakai baju daerah tiap hari Rabu, cute!

Serius, nyobain motret pakai SLR.


Doing good make us feel good
“I believe that if you have revolutionary potential, you must make the world a better place and use it,” Lady Gaga.

Karena kalau ngikut teori Neo-Darwinism, katanya manusia itu pada dasarnya egois, hanya hidup untuk bereproduksi dan meneruskan gen terbaik. Boro-boro peduli sama orang lain. Enggak sepakat? Sama.

Tapi ada memikirkan diri sendirinya juga memang. Dengan lantang saya mengakui, kalau melakukan hal baik membuat kita merasa lebih baik tentang diri kita sendiri. And it’s not bad. The more we believe that we’re a good person, we might become one. Right?

Kalau menurut ilmu psikologi, ini yang namanya altruism. Ada banyak alasan seseorang mau melakukan hal baik atau menolong orang lain. Bukan tanpa pamrih, walaupun pamrih ini enggak selalu berkaitan dengan materi atau balasan seketika. Kadang enggak berharap menerima apapun. Bentuk pamrih bisa jadi diterima orang lain, dihargai, dianggap, disenangi, orang yang kita bantu jadi senang, or just to make us feel better.

Ada juga sih yang namanya pure altruism, yang sama sekali demi langit dan bumi enggak mengharapkan apa pun. Yang hanya tergerak oleh empati. Biasanya bentuknya menolong orang yang kesusahan di saat itu juga. Bisa baca di sini buat yang penasaran sama pure altruism

“Alasan utama yang lain karena hidupku sudah penuh dosa.. ya, siapa tahu ikut KI bisa ngurangin dikit,” Arthur (29), Markom Manager, Bandung.

Iya, dia bercanda.

"Ikutan KI pertama kali tahun 2015 di Kulonprogo. Dapat sekolah yang cuma selemparan batu dari pantai, satu kelas cuma 7 sampai 15 orang. Profesi yang mereka tahu cuma nelayan, buruh, supir truk dan polisi. Dari situ muncul simpati, aku jadi merasa wajib untuk ngasih tahu mereka kalau di luar sana banyak profesi yang belum mereka tahu. Contohnya profesiku," Gadis, mahasiswa & penyiar radio, Yogyakarta.

Ada banyak hal baik yang bisa kita lakukan, kenapa harus mengorbankan cuti, uang, dan tenaga untuk ngajar anak SD? Di sini menurut saya akhirnya inspirasi tadi yang menggerakkan. Saya sendiri, selalu tergerak sama cause yang fokus ke pendidikan atau kesetaraan gender. Sebagai orang yang rasional, saya yakin pendidikan itu penting. Mau formal, mau enggak, yang penting jadi manusia itu harus terdidik. Enggak harus pintar tapi harus smart. Bedanya apa? Ha-ha-ha. Ya maksudnya enggak harus selalu ranking, tapi harus punya pengetahuan yang luas.

“Saya tahu ikut KI itu ngabisin duit, nguras keringat, harus nambah kuota internet hape, dan ada kemungkinan dipecat kalo cuti tapi kerjaan masih berantakan. Tapi, banyak hal yang bisa saya dapat dalam KI. Yang mungkin orang lain akan mencemooh, seolah KI menjadi pelarian saya dari dunia kerja. Tapi saya suka anak-anak, saya suka berinteraksi dengan orang orang baru, saya menghargai kecerdasan, saya senang belajar dari masyarakat secara langsung, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” jawab Arthur lagi. Serius tapi tetap bercanda, anaknya memang gitu, mohon dimaafin. Sejak ketemu di KI Bekasi 3, lalu ketemu lagi di KI Bandung 5 ini, dia selalu kocak dan semangat banget (kadang kebangetan, sih, ha-ha-ha). Salah satu orang yang juga menginspirasi. Arthur, jangan geer.

"Mulai dari sebaya sampai orang dewasa banyak yang nanya, 'dibayar berapa sih, Dis?' Atau dibilang 'sisa-sisa ya duit lo sampai dipake buat gituan. Mending belanja.' Kadang panas pengen cerita panjang, tapi akhirnya aku cuma bilang, 'mumpung masih muda, masih banyak waktu buat cari duit, tapi kalo udah tua, abis energinya, emang bisa dibeli lagi?" kata Gadis. Yang bikin saya terharu. Dia ini masih kuliah, buat ikutan KI Bandung, dia sengaja menabung. Waktu seusia dia, saya lagi giat-giatnya skripsi, nyari duit, dan main. Enggak kepikiran buat give back. Salut!


Pose! Bapak Arthur Situmeang :P

Semuanya harus pakai headpiece benda luar angkasa! Dia jadi satelit. Sip.

Selain siaran, Gadis juga jago bikin flashmob.
Semangat ngajar di kelas dengan beanie beruang, cute.


Jendela ke pendidikan di Indonesia
Jadi setiap kegiatan KI ini mengambil lokasi SD Negeri, biasanya yang agak pinggiran gitu, bukan yang paling famous di daerah itu. Dengan begini, kita jadi bisa melihat potret pendidikan di Indonesia secara langsung. Memang sample, tapi langsung. Tapi buat saya yang dulu kerja di rubrik pendidikan di koran nasional dan sekarang di media nasional yang juga concern sama pendidikan, banyak melihat sekolah di Indonesia. Dari yang membanggakan sampai yang menyedihkan. Misalnya perjalanan saya belum lama ini mengunjungi beberapa sekolah di Sumba Barat Daya, bisa dibaca di sini.

Intinya, yang terlihat oleh saya, fasilitas untuk pendidikan di Indonesia belum merata. Ada yang segala ada, ada yang UKS aja kayak gudang. Ada yang laboratoriumnya lengkap, ada yang lab itu hanya ruangan secuil di ruang guru yang disekat lemari. Ada yang pintu gerbangnya dijaga satpam, ada yang bahkan enggak ada pagar sampai binatang liar bisa masuk ke halaman. Tidak merata ya masuk akal, tapi seenggaknya alat dan ruang belajar seharusnya layak. Iya ini fakta yang kita semua udah tahu. Tapi tahu dari mendengar atau membaca, berbeda dengan tahu karena melihat langsung. believe me, it broke your heart.

Butuh lebih banyak guru yang passionate untuk mendidik dan mengajar. Dan ini bukan hanya yang jauh dari Jakarta, yang deket aja menurut saya masih ada yang belum layak untuk membimbing murid jadi seseorang yang kaya pengetahuan dan pengalaman. Kalau dari segi kurikulum, saya enggak bisa memberikan komentar, enggak mengkaji langsung dan enggak ahli di bidang itu.

Semoga sih, dengan kegiatan ini, lebih banyak orang yang terbuka matanya dan tergerak untuk menuntut pemerintah atau bahkan melakukan perubahan swadaya. Ada juga peserta KI yang akhirnya tergerak di luar kegiatan KI untuk melakukan aktivitas lainnya, misal menyumbang buku atau alat peraga.


Penampilan tari Jaipong, kece!
A day full of smile! :)
"Hese, ah, Bu! (Susah, ah, Bu)"



KI kedua saya
I want people - especially young girls - to know that in life, nothing is going to be based on sex appeal. You've got to have something else to go with that,” Nicki Minaj.

22 Februari 2017 lalu saya mengikuti KI lagi, kali kedua. Sebelumnya saya mengikuti KI sebagai pengajar di Bekasi, bisa dibaca di sini. Saya tergerak lagi untuk ikutan selain karena terinspirasi tadi, juga karena ingin menyumbang sesuatu untuk kota di mana saya besar, di mana saya menuntut ilmu, Bandung.

Saya berkesempatan bertemu dengan siswa SDN Babakan Sinyar di Kiara Condong, yang semangatnya super sekali! Ada yang semangat belajarnya tinggi, serius mendengarkan dan aktif menanggapi. Ada yang semangat main, lagi serius pun dia jawabnya dengan bercanda. Ada yang semangat unjuk gigi. Ada yang semangat cari perhatian, sengaja menjawab salah dan agak kurang sopan. Yang kayak gini nih yang menantang untuk dibikin lebih sopan, he-he-he. Ada juga yang semangatnya berapi-api sampai butuh 15 menit untuk meminta mereka duduk di bangkunya masing-masing. Terpujilah, wahai engkau, Ibu, Bapak, guru!

Dan di KI kedua ini saya enggak seambisius di KI pertama. Di mana saya berusaha banget adik-adik paham apa pekerjaan saya, wartawan. Malah saya pengennya pas pulang dari sana ada yang pengen jadi wartawan, ha-ha-ha, muluk. Kali ini saya lebih fokus ke; kami datang ke sekolah untuk meluangkan waktu bersama, we’re here, we care, and we hope that we could inspire you even for a bit. It’s the least that we can do.



xoxo,
Ibu guru yang pakai headpiece bintang silver.

It's a pleasure meeting you all, inspiring peeps. Till we meet again :*




*all picture taken by Dinda Primazeira, tim dokumentasi KIB5. **FYI, thanks to my dearest husband who helped me make the headpiece, mengantar, serta menjemput. I love you.

Comments