Persiapan Pendaftaran Beasiswa Master LPDP: Makan Waktu Berapa Lama dan Mengeluarkan Biaya Berapa, Sih?

2:35 AM


"Kalau gampang, apa kerennya?" Alin.

Another pay it forward blog post. Kepada semua blog yang saya sambangi selama persiapan ini, terima kasih. Berikut cara saya mengapresiasinya, dengan memberikan pengalaman saya ketika melakukan persiapan pendaftaran beasiswa LPDP untuk program Master di luar negeri.

Ini baru persiapan untuk online submissions, lho, belum sama perjalanan seleksinya. Karena saya baru saja submit kemarin. Kenapa temanya makan waktu berapa lama dan mengeluarkan biaya berapa? Karena selama berselancar di berbagai blog, belum ada yang membahas dari angle ini.

Saya akan mulai dari persiapan yang paling makan waktu ke persiapan yang paling pendek. Durasi ini juga mungkin berbeda tergantung kesibukan dan kemalasan. Anggap saja saya ini kerjanya sibuk banget (sebagai pemimpin redaksi sebuah website) dan tingkat kemalasan saya medium, lah, kecuali kalau lagi stress, ha-ha-ha. Saya juga akan melampirkan biaya yang saya keluarkan (di tahun 2017) dan totalnya di akhir. Here we go!


Mencari Course dan Universitas
Durasi: 3 bulan
Biaya: data itu enggak gratis, sih, tapi sudah lah ya~

Bersyukurlah mereka yang udah tahu mau melanjutkan kuliah dengan kajian apa dan di negara mana. Tinggal dicari deh universitas yang menawarkan kajian itu. Pastikan juga universitas yang akan kita pilih ini termasuk universitas rujukan LPDP. Karena kalau di luar itu, LPDP baru akan mempertimbangkannya apabila kita udah diterima alias dapat Letter of Acceptance (LOA). Sementara kalau yang kita tuju termasuk di dalam list universitas LPDP, bisa apply beasiswa tanpa LOA dengan catatan kita sedang apply ke universitas tersebut.

Kenapa tiga bulan? Sebenarnya saya sudah tahu kajian yang saya minati dan negaranya. Tapi saya belum tahu universitasnya. Sehingga saya menghabiskan banyak waktu, dengan dicicil dan banyak jedanya, untuk browsing. Saya juga menghabiskan waktu untuk mempersiapkan syarat-syarat daftar di universitas tersebut. Seperti:

1. Ijazah dalam bahasa Inggris
Durasi: 2 bulan
Biaya: Ongkos dan fotokopi
Ini harus diurus di universitas di mana kita mengenyan S1 dan makan waktu dua bulan kalau di Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad. Lama, yah? Dan harus di hari kerja, cuti, dong. Jangan lupa bikin surat permohonan pembuatan ijazah dalam bahasa Inggris. Ini contohnya:

Hal: Permohonan Ijazah dalam Bahasa Inggris
Lamp: Fotokopi Ijazah Asli

Kepada Yth:
Wakil Dekan Bidang Akademik
Fakultas xx
DR. xx, DRS., M.SI.
di Tempat

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama:
No. Mhs.:
Alamat:

Adalah lulusan Jurusan xx, Fakultas xx Universitas xx. Saat ini saya sedang mengajukan aplikasi untuk mendaftar beasiswa S2 di xx University, di xx. Saya bermaksud memohon ijazah dalam bahasa Inggris sebagai salah satu persyaratan mengajukan aplikasi di universitas tersebut. Atas perhatian dan bantuan Bapak, saya sampaikan terima kasih.




Jatinangor, 13 Januari 2017
Hormat saya,





xx

2. Surat rekomendasi dari Universitas
Durasi: 1 hari (kalau sudah bikin janji)
Biaya: Ongkos dan fotokopi
Sama dengan nomor satu, saya dari Jakarta harus ke Jatinangor untuk mengurusi yang ini, dan harus di hari kerja sehingga cuti lagi, deh. Saya minta suratnya ke Dekan Fikom, Pak Dadang Rachmat, seharian, karena nungguin beliau rapat. Sebaiknya janjian dulu sama dosen yang akan kita temui, ya, biar perjalanan jauhnya enggak sia-sia. Setelah ditanda-tangan dan dicap, jangan langsung pulang. Fotokopi dulu untuk minta dilegalisir, siapa tahu perlu, daripada balik lagi, jauh.

3. Surat rekomendasi dari Institusi
Durasi: 2 minggu
Biaya: Kalau atasan minta ditraktir bisa mahal
Karena sudah bekerja, saya meminta dua surat rekomendasi dari atasan saya di kantor. Ini lumayan makan waktu, tergantung kesibukan dan kesediaan mereka. Enggak enak dong udah minta tolong, eh maksa. Berilah mereka waktu satu sampai dua minggu untuk menuliskan suratnya, jangan lupa sertakan contoh juga buat acuan. Dan enggak semua atasan bersedia bikin surat ini. Bisa jadi karena enggak biasa, enggak bisa nulis dalam bahasa Inggris, atau emang enggak mau merekomendasikan kita aja. Pedih.

4. Personal statement
Durasi: setengah hari
Biaya: Kalau ngerjainnya di café bisa mahal
Yang ini bisa jadi cuma makan waktu setengah hari. Menuliskan esai tentang siapa diri kita dan kenapa kita ingin melanjutkan studi dengan kajian yang kita pilih dan di universitas yang kita lamar tersebut. In English, ya.

5. Academic IELTS
Pastikan berapa band yang diminta universitas yang kita minati. Karena beda-beda, ada yang cukup overall band-nya 6,5 ada yang sampai 7. Lalu mereka juga memaparkan band minimal untuk tiap sesi, biasanya 5,5. Jadi listening, reading, writing, dan speaking kita enggak boleh ada yang di bawah band 5,5. Oh iya, ada juga course atau universitas yang mengharuskan kita punya sertifikat UKTVI, yah. Soal IELTS ini saya bahas di bawah.


Academic IELTS
Durasi: 1 Bulan
Biaya: Rp4,1 juta (Rp1,3 juta workshop + 2,8 tes)

Saya menghabiskan waktu satu bulan untuk mendapatkan skor academic IELTS. Satu minggu untuk ikutan workshop persiapan test di IDP Pondok Indah, minggu depannya ikutan tes yang diselenggarakan British Council, dan dua minggu kemudian hasil tesnya baru saya dapatkan.

Durasinya bisa molor panjang andaikan kita ikutan IELTS preparation class. Di UI Salemba itu 13 minggu dengan biaya sekitar Rp1,6 juta, sementara di IALF Kuningan itu ada yang dua minggu (intensif) dan 8 minggu dengan biaya sekitar Rp 2-4 juta. So, do the math kalau mau les dulu dan biaya juga pastinya membengkak. Buat yang bingung harus les dulu, ikutan workshop, atau langsung tes aja, saya bahas di postingan ini nih, klik aja.


Surat Keterangan Sehat
Durasi: 1 minggu
Biaya: Rp800 ribu (Rp550 ribu MCU + 250 tes TBC)

Surat keterangan sehat, bebas narkoba dan bebas TBC ini harus dikeluarkan oleh RS pemerintah. Saya sempat ke RSCM tapi katanya mereka tidak bisa mengeluarkan surat bebas TBC selain untuk keperluan PNS. Sehingga saya dirujuk ke RSPAD, tapi pas sampai sana antriannya bikin ciut, akhirnya saya urungkan niat. Lalu browsing nemu blog yang bilang di RS Fatmawati sistemnya oke dan penangannya baik, akhirnya memutuskan ke sana.

Jam delapan pagi sudah nangkring di gedung Bougenville RS Fatmawati untuk MCU. Dan benar saja, antriannya cuma dua dan sistemnya rapi. Para petugasnya juga sudah sangat terbiasa menangani calon pelamar beasiswa. Malah tiap selesai tes mereka langsung mendoakan supaya kita lancar prosesnya, hi-hi-hi, amiin.

Untuk MCU sebenarnya hanya butuh satu hari, pagi tes dan siangnya hasilnya bisa diambil. Setelah hasil diambil lalu langsung menuju poli Sari Husada untuk dicek bebas TBC oleh dokter paru. Kalau paru kita sehat, surat itu bisa kita dapatnya di hari yang sama. Jadi, cuti lagi deh sehari.

Tapi enggak semua skenario berjalan sempurnya, kalau dalam hidup saya. Jadi durasi MCU saya memanjang karena saya baru berhenti menstruasi sehingga dokter menolak saya tes urine di hari itu. Tes urine ditangguhkan tiga hari setelah menstruasi supaya aman. Saya menurut saja.

Dan karena ketika waktunya saya harus tes urine saya sibuk banget mana kantor saya kan jauh ya di Kebon Jeruk, jadi saya gojekin urine saya ke petugas lab-nya. Saya sudah diberi kemasan untuk urine ketika hari MCU, dan saya kemas dengan sangat rapi. Abang Gojeknya saya brief dengan baik untuk menyerahkan ke petugas lab. Aman sih, tapi jangan ditiru. Kalau urine-nya dituker dan jadi positif narkoba, gimana? Saya juga sempat dimarahi suami dan sahabat atas tindakan ini. Tapi waktu itu mepet banget.

Lalu dramanya berlanjut, di hari saya mengambil hasil MCU dokter parunya enggak ada, sehingga saya harus balik lagi keesokan harinya. La-la-la. Buat yang jam kerjanya masuk jam 8 atau jam 9 teng sih bakalan susah banget. Kebetulan jam kerja saya lebih fleksibel dan memang sudah menjelang resign jadi ada waktu.

So, pastikan enggak lagi menstruasi yah kalau mau MCU di RS Fatmawati. Soalnya saya pernah MCU dan baru selesai menstruasi di lab Paramitha baik-baik saja. Beda RS, beda dokter, beda pendapat, dan mungkin beda alat, ya? Biar aman aja sih.


Menulis Esai
Durasi: 1 minggu
Biaya: kalo sambil nongkrong di café bisa mahal.

Demi Tuhan saya ini penulis, tapi untuk mengerjakan tiga esai ini saya menghabiskan waktu sampai sekitar 1 minggu. Ada tiga macam esai yang harus kita sertakan ketika mengirimkan lamaran beasiswa LPDP:

1. Rencana studi
Bukan esai biasa. Ini lebih mirip bab satu makalah atau penelitian. Di dalamnya kita harus menyertakan latar belakang, penjelasan course dan universitas yang kita minati, perkiraan module yang akan diambil, perkiraan biaya sejak berangkat sampai pulang, dan rencana setelah setelai studi. Saya menghabiskan waktu seharian untuk membuat ini. Diselingi main medsos dan bikin kue nastar, dan acara bukber, sih.

2. Kontribusi Terhadap Indonesia
Dua esai lainnya saya kerjakan enggak sampai setengah hari, satu esai sekitar satu atau dua jam karena sudah kebayang mau menulis apa. Saya sih berkisah seperti menulis untuk blog, jadi bahasanya lebih enak, mengalir, enggak seperti Rencana Studi. Saya menuliskan apa yang pernah saya lakukan dan saya anggap bermanfaat bukan hanya untuk diri sendiri.

3. Sukses Terbesar dalam Hidup
Yang ini bisa jadi agak mengawang atau terkesan membanggakan diri. Tapi begitulah esai, akan memperlihatkan sudut pandang, pola pikir, dan bagaimana kita melihat dunia. Untuk esai yang satu ini akhirnya saya menuliskan tentang konsep kesuksesan, bukan prestasi. Saya pikir itu relevan, walau penilai bisa jadi berpendapat berbeda, ya, he-he-he.


Belajar dari kebodohan saya…



Oh iya, kalau mau lebih santai, tahap satu (nyari universitas) dan tahap lima (tes IELTS) bisa didahulukan. Maksudnya, misal mau ambil masa kuliah September atau Oktober 2019, mulai apply beasiswa kan di Juni 2018, itu tahap satu dan lima bisa dikerjakan sejak.... sekarang! Ha-ha-ha. Ya kalau mau paling telat itu di Januari 2018 nanti sih, kemudian perjalanannya bakal kayak saya, sedikit tergesa-gesa.

Lalu kalau ditolak sama satu universitas, baper-nya jangan kelamaan kayak saya. Seminggu maunya enggak ngapa-ngapain (dalam artian enggak maju tahapan apply beasiswa dan universitasnya). Lalu nulis blog yang ini. Yaudah sih, ditolak, kan masih ada yang lain. Sekarang sih bisa nulis gini, minggu lalu aja…. ha-ha-ha, namanya juga lyfe. Huft.

Dan terus terang mempersiapkan semua ini sambil bekerja memang rasanya enggak ada habisnya. Saya kagum banget sama teman-teman yang pernah melalui tahap ini. Karena effort-nya besar, bukan iseng-iseng, memang harus benar-benar niat mengingat waktu, tenaga, dan uang yang dikeluarkan. Sehingga kalau dihitung-hitung, biaya yang dikeluarkan dalam rangka ikhtiar ini adalah Rp4,9 juta Ini angka bersih yah belum ditambah ongkos apalagi yang harus ke luar kota ngurusin surat ke kampus atau biaya Gojek dan Uber ke sana-sini.

Sementara waktu yang dihabiskan adalah 4 bulan 1 minggu. Belum kalau kayak saya, yang tiap tahapnya ada jeda enggak ngapa-ngapain karena sibuk ngurus yang lain, mana website kerjaan baru launching, nyahahaha *curhat. Saya sih sampai enam bulan melakukan persiapan ini, mulai dari awal tahun 2017 deh. Jangan ditiru, guys.

Last but not least, buat yang sedang berusaha juga, semangat! Dan buat semua yang baca, kalau enggak memberatkan, minta doanya, yah, semoga saya diberikan yang terbaik. Kalau memang harus sekolah lagi insyaalloh saya akan berangkat. Tapi kalau enggak, mungkin ada rencana lain buat saya.

Keep telling that to myself. La~la~la.


**PS: Buat yang mau apply atau baca terms & condition buat apply beasiswa ini, bisa langsung ke laman LPDP ini.


**PPS: Buat yang mau contoh rencana studi dan esai yang saya buat dalam bentuk PDF, silakan meninggalkan alamat email di kolom comment. Kalau ada waktu akan saya kirim. Tapi, boleh dong, follow blog saya ini dan share link artikel ini di Facebook? Nyahahahaha. Usaha dikit boleh, lah, ya?

You Might Also Like

1 comments

recent posts

Dear you,

Be a Creator, Today!

Be a Creator, Today!
Click at the Image to know how you can earn money from writing!

Google+ Followers

Subscribe