morning of the (supposed to be) glorious life

10:40 AM

chapter 10: what will happened, after the big dream happened?



"Dreams are like stars...you may never touch them, but if you follow them, they will lead you to destiny." -someone

*run, people, run :p




"I
once believe that i will die in my thirties, i don't know why. but i never really believe in it, i guess. coz if i really do, I'll start doing something with my life. in which i am not," pikir saya pagi tadi sampai seorang ibu menyenggol tas saya dengan tas besarnya. pagi ini transjakarta penuh sekali. belum lagi, kalau boleh, saya keluhkan cuaca jakarta pagi ini. panas. kalau boleh setiap hari seperti kemarin pagi saja. mendung dengan gerimis manis.

anyway, kabarnya salah satu teman baik saya baru saja melahirkan. bayi perempuan yang lucu. teman baik saya lainnya sedang menyiapkan pernikahannya. memang kadang dia uring-uringan. tapi saya tahu, ini adalah hal yang sangat menyenangkan buat dia, exiting thing and she's been waiting for it. teman baik saya yang lain baru sedang menjajal her dream job setelah puluhan kali harus kecewa. "people really moved on," pikir saya sambil menatap kosong ke luar. tampak plang besar bertuliskan "masberto", artinya saya harus bergerak mendekat pintu transjakarta.

perjalanan dari kosan ke kantor memang tidak lama. tapi dalam dua puluh menit itu, pikiran saya sering dipenuhi dengan berbagai hal. karenanya saya tidak pakai ojek. mempercepat perjalanan memang. tapi memenggal kesempatan untuk bermain-main dengan imajinasi dan some-what unimportant thoughts.

oya, masberto bukan tempat saya bekerja, ya. sekali pernah saya jaga tiket di sana membantu teman. mau tahu bagaimana malam ala "masyarakat bertato" dan musik yang mereka suka. simpulan saya: like the tattoo not the music. kantor saya sekitar lima menit berjalan kaki dari tempat hype untuk kalangan tertentu itu.

seperti biasa angin di jembatan halte transjakarta tosari sangat kencang. saya perkirakan karena di sekitarnya gedung-gedung tinggi menjulang. jadi si angin mencari celah kosong. al hasil, kalau memakai rok saya harus siap dengan konsekuensi re-lived pengalaman marlyn monroe dengan rok putihnya. *walau sangat beda jauh eksekusinya, di tatar ide saja, hehe* rambut yang sudah saya potong pendek tetap jadi berantakan. saya menghembus nafas panjang. "kelak kalau angin bisa menerbangkan kerisauan, saya akan mulai bersyukur lagi," pikir saya singkat.

sambil menyusuri jembatan yang tiap hari saya lewati itu, saya pikir, "mungkin ini sebabnya waktu kecil kita diajarkan untuk bermimpi yang tinggi. setinggi langit. bahkan yang tampak tidak mungkin harus kita impikan. karena, kalau impian kita standar, apa yang selanjutnya terjadi. bisa jadi malah mikir: okay, i reached my dream, whats next? nothing?"

belum lama saya nonton lagi film kesukaan saya. tentang seorang pria berumur 20-an. sejak remaja yang dia inginkan adalah jadi seorang musisi. bagi dia, itu adalah his ultimate dream. namun setelah menjalani mimpinya, he feels that its not it. it doesnt make him happier. everything went wrong. dan dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di usia 23.

"karena, kalau kita punya mimpi yang sangat mustahil, kita akan mati-matian mengejarnya. seumur hidup. itulah yang mungkin membuat kita bertahan. se-tidak-adil apapun dunia, yang penting kita percaya kalau kita on the right track, pursuing our dream. macam kata 50 cent: get rich or die trying. *oh my... sejak kapan saya dengerin 50 cent?*" pikir saya sambil menyebrang tikungan jalan. sambil berharap tidak ada kendaraan mengebut yang lewat.

beberapa penjual mulai terlihat berlalu-lalang. salah satunya seorang tukang sayur. gerobaknya masih penuh. mungkin sama seperti saya, dia baru memulai harinya. bisa juga dagangannya belum laku padahal dia sudah berjualan sejak pagi. "tukang sayur itu, apa dia bermimpi jadi tukang sayur?' pikir saya.

tiba-tiba ingat perkataan rumi. dia bilang, semua orang ditakdirkan untuk mengerjakan sebuah pekerjaan tertentu. maka pada hatinya ditanamkan kecintaannya pada profesi itu. "lalu, tukang sayur memang ditakdirkan begitu?" pikir saya sambil menyeka keringat. pagi ini memang panas sekali.

kalau rumi masih hidup, mungkin banyak yang ingin saya tanyakan sama dia. makanya saya banyak bertanya pada diri sendiri juga, karena saya masih hidup. setiap pagi saya bertanya padanya, diri, whats next? what would you do next? saya enggak bisa ikut-ikutan kamu yang hanya bangun, mandi, nonton tv, berangkat, ngetik, makan siang, pulang, nonton tv, tidur, dan memulai lagi.

"if this is your dream, okay, live it. but whats next? karena pemandangan dari sini, dari dalam the big dream, tidak bisa membuat saya cukup," kata saya pada diri. "mungkin dulu saya harusnya bermimpi lebih besar lebih extravagant lebih enggak masuk akal. but maybe, saya sudah bitter dan realistis sejak kecil," pikir saya lagi. sambil mengingat pengalaman ditanya guru ketika SD dulu.

***

"cita-cita kamu, apa, astri?"
"saya enggak mau jadi astronot. enggak mau juga jadi presiden. apa yah?" kata saya.
"mau jadi apa dong?" kata dia.
"mau jadi orang bahagia, bu." jawab saya.
lalu ibu guru yang budiman mengerutkan dahi lalu senyum dengan sinis sambil berkata "itu mah bukan cita-cita."
dalam hati saya pikir, "yang pasti kalau saya jadi guru, saya enggak mau jadi guru macam ibu."

***

lalu saya menghembuskan nafas panjang. lempar senyum pada pak satpam, mengejar lift yang hampir tertutup, menekan angka 14, dan terdiam. "ahh, mungkin saya lagi pms," kata saya pada diri sendiri.


You Might Also Like

4 comments

recent posts

Dear you,

Be a Creator, Today!

Be a Creator, Today!
Click at the Image to know how you can earn money from writing!

Google+ Followers

Subscribe