baby, you have a date with reality

5:56 PM



"Reality is merely an illusion, although a very persistent one." - einstein

"K
alau aku kelihatannya gimana?" di sana, di bawah pohon besar dan lampu sorot itu dia bertanya. Saya kedipkan mata perlahan, lalu saya pandang dia lekat-lekat. "Enggak jelas, terhalang sama bayangan dan pendar sinar dari lampu," kata saya. Dia tampak puas dengan jawaban itu, lalu tersenyum. Dalam hati, saya bertekad, week end ini saya harus beranjak membeli kaca mata. Tapi saya tidak yakin, dia bisa mengantar. Dan saya malas, berangkat sendiri.

Ketika LDR (Long Distance Relationship) berubah menjadi NTR (No Time Relationship), jarak bukanlah masalah. Nyatanya itu memang tidak selalu jadi masalah. Menuliskan ini juga, waktu, tidak jadi masalah. tidak ada masalah. ketika saya melihat matanya kembali berbinar. ketika dia menyeka keringat yang menetes di dahinya lalu tersenyum. ketika dia mengaduh tapi lalu tertawa. ketika dia tiba-tiba menjadi cerewet dan punya berpuluh judul cerita.

Lompat ke masa lalu, saya pernah berkata begini pada teman saya. "Jadi perempuan di balik laki-laki yang cerdas dan bermimpi besar itu menyedihkan," kata saya. Dia (yang juga laki-laki dengan mimpi), meminta saya menjelaskan kalimat saya. "Pernah membayangkan apa yang perempuan itu rasakan, waktu si laki-laki mengejar mimpi besarnya? memperjuangkan prinsipnya?" tambah saya.

Dia lalu tersenyum. Tersenyum khas orang jawa. Manis, tapi menyimpan makna, rahasia. Waktu itu kami bukan membicarakan Aburizal Bakrie atau Donald Trump. Kalau tidak salah, laki-laki semacam Che Guevara atau Chairil Anwar. Saya tahu di balik senyumnya, dia pasti pikir saya ini kontradiktif. karena pada kenyataannya saya suka laki-laki bermimpi besar.

Saya sering heran, betapa hal yang paling kita sukai dari seseorang, kadang adalah hal yang paling irritating dari orang itu. Kita suka einstein itu pintar, tapi dia kadang menyebalkan karena kepintarannya. Saya suka laki-laki yang teguh prinsipnya, tapi kadang dia menyebalkan karena tidak mau menerobos lampu merah walaupun semua orang melanggar dan tidak peduli.

"Ternyata begini yah, dan besok, kita harus kerja lagi. Semua orang juga pasti punya tekanan di pekerjaannya, yah?" kamu mulai melantur. "Iya. bedanya kamu enggak punya banyak waktu. Semua orang pasti punya kewajiban. Cuman berbeda," saya mencoba mengerti arah obrolannya. Dia hanya tersenyum.

Ada perasaan geli di perut saya. Perasaan seperti ketika melihat dia memakai toga. Seperti ketika dia bercerita harus mengantar keponakannya ke posyandu untuk imunisasi. Seperti ketika dia berdiri di depan saya dengan setangkai bunga. lalu ada bagian di hati saya yang berkata:

"Baby, you have a date with reality."

Saya akan menunggu di sini, sampai kamu selesai menata hati, menyesuaikan diri. Nanti kita bermain-main lagi. Di pojokan kamar, kopor saya sudah terisi. Kalau-kalau kamu mengajak lari. Apalagi, kalau bukan lari dari reality. Mungkin boleh. Sejenak. Atau sekalian kita beli satu tiket pergi dan tidak pernah kembali lagi.

You Might Also Like

9 comments

recent posts

Dear you,

Be a Creator, Today!

Be a Creator, Today!
Click at the Image to know how you can earn money from writing!

Google+ Followers

Subscribe