Kelas Inspirasi Bandung 6: Sehari Bertukar Inspirasi, Sesuatu yang Tidak Bisa Dibeli



“Kak, hari ini enggak ada sekolah, yah?” Mendengarnya saya bingung. Siapa sih ini yang bertanya? Kok tidak kelihatan? “Yah, kak, enggak ada sekolah?” tanyanya lagi, kali ini suaranya diikuti wajah yang menyembul dari samping kanan saya. 


Seorang siswa SDN Jamika 251 memakai baju pangsi. Karena hari Rabu, semua siswa di Kota Bandung memakai baju khas daerah, yang laki-laki memakai baju pangsi dan yang perempuan memakai kebaya.

Saya tersenyum. 

“Kata siapa? Hari ini sekolah, kok! Tapi hari ini bakal berbeda dari biasanya!”
Jawab saya dengan nada super ceria seakan hari ini akan begitu luar biasanya. Mendengar jawaban saya, dia dan teman-temannya bersorak dan bertepuk tangan sembari masuk ke ruang kelasnya masing-masing.

“Benar tidak, ya, hari ini akan luar biasa?” Tanya saya dalam hati.






Ini adalah kali ke tiga saya menjadi relawan pengajar di Kelas Inspirasi (KI). Sementara untuk teman-teman relawan lainnya di kelompok 17, ada yang sudah berulang, ada juga yang baru pertama kali. 

Tapi berapa kali pun mengikuti KI, berapa kali pun bangun lebih pagi dari biasanya dan stand by di sekolah, berapa kali pun menyiapkan materi, hari-H selalu dimulai dengan sama; rasa deg-degan!

Tapi deg-degan ini deg-degan yang positif. Karena untuk satu hari saja, kami melakukan hal yang di luar kebiasaan. Di tempat yang tidak kami datangi sehari-hari. Dan bertemu orang-orang yang belum pernah kami temui sebelumnya. Yang kesemuanya di dalam hatinya menyimpan satu hal yang sama, cita-cita.


“Saya sempet berpikir. Untuk apa, sih, Kelas Inspirasi? Untuk apa, sih, datang ke sekolah dan berbagi inspirasi?”
kata Dyah yang sehari-harinya bekerja sebagai Data Analyst, ketika saya tanya mengapa dia mau mengituti KI Bandung 6 ini.

Iya juga. Untuk apa, sih?



Demi satu kata yang diulang, cita-cita
Ya itu, kesamaan yang membuat semua orang berkumpul di KI, cita-cita. Karena ketika saya tanyakan kepada para inspirator di kelompok ini, kata itu yang selalu muncul. 

Misalnya, Arda yang sehari-harinya bekerja sebagai pegawai bank, “Ikut KI karena ingin memberikan motivasi kepada para calon penerus bangsa. Supaya mereka kelak tidak merasa salah dalam memilih cita-cita,” katanya.


Itu juga yang dirasakan Dyah setelah mengikuti KI, kesadaran untuk ‘menularkan’ kepercayaan kalau cita-cita itu tidak ada batasnya. 

“Tugas kita semua, orang dewasa untuk berbagi inspirasi bahwa semua cita-cita itu mungkin jadi nyata. Bagaimana pun kondisi kita. Apalagi untuk siswa SD yang berada di pedalaman, dengan fasilitas yang ‘biasa’, mereka harus diberikan inspirasi bahwa kondisi seperti itu bukan halangan dalam meraih mimpi dan cita-cita. Semua orang punya kesempatan sama untuk bermimpi dan meraih cita-cita.”

Cita-cita ini juga yang menjadi tema kami, inspirator Kelompok 7, KI Bandung 6. Kami membentangkan ‘Gerbang Mimpi’ di mana para siswa bisa menyematkan impian dan cita-cita mereka padanya. Sambil berdoa semoga bisa jadi nyata.

Sementara di kelas, berkali-kali kami melisankan, cita-cita itu bisa jadi nyata. Melalui yel-yel.



Kesempatan ‘belajar’ kembali di sekolah
Tapi, bukan hanya siswa SD, nih, yang mendapatkan manfaat. Kelas Inspirasi memberikan kesempatan pada relawan untuk bermain, bercanda, dan tentunya belajar dari para siswa dan guru. 

“Pengalaman di KI Bandung 6 sangat mengesankan karena banyak inspirasi yang saya dapatkan,” aku Hendra, relawan dokumentator dan videographer.

“KI-6 Menakjubkan! Anak-anaknya bersemangat dan pintar dalam berkreasi,” ujar Rini, relawan inspirator yang sehari-harinya bekerja sebagai perawat. DI kali ke-2 mengikuti KI ini ia merasa puas, karena mendapatkan apa yang ia harapkan. 

“Alasan ikut KI memang ingin menambah wawasan anak-anak mengenai berbagai macam profesi. ingin merasakan kembali bagaimana rasanya menjadi inspirator anak-anak tingkat sekolah dasar. Juga mendapatkan inspirasi dan pembelajaran dari mereka,” tambahnya.

Ada banyak pelajaran yang para inspirator bisa ambil dari kembali ke sekolah sehari ini. Belajar berpeluh tanpa pamrih dari para sesama relawan. Belajar arti kata ‘mengabdi’ dari para guru. Dan belajar menatap masa depan dengan antusias dari para siswa. 


Sehari bertukar inspirasi, sesuatu yang tidak bisa dibeli.





Comments

  1. wow, tulisannya sangat menginspirasi. Ternyata ada ya kelas inspirasi gini. Seandainya, kaya gini ada juga di Kota SoloMuslim di Solo

    ReplyDelete

Post a Comment