yang sudah patah

9:33 AM


...

"yang sudah patah,
 tidak bisa kembali direkatkan,"


pikir saya. Lalu beraktifitas seperti biasa hingga siang, hingga siang itu tiba. Saya buka perlahan tas flashy hitam kumal, di dalamnya, di bagian yang paling dalam, ketika saya rogoh saya menggenggam sebatang coklat. coklat yang pagi tadi patah, yang sejak ia berikan sudah patah, terlalu kencang digenggam dan dipaksakan masuk saku, jadi patah. Saya genggam coklat patah itu, saya genggam dengan perasaan yang sama patahnya dengan si coklat.

"yang sudah patah,
tidak bisa kembali direkatkan,"


pikir saya. Lalu saya letakkan kembali di dalam tas, di bagian yang paling dalam. Lalu dia datang menjemput, mengantar saya pulang, dengan obrolan seadanya seperti biasa, dengan obrolan yang diada-adakan seperti biasa, tentang hayalan dan masa depan. tentang pendapat, tentang dunia, tentang dunia sempit yang kita hidup di dalamnya. Saya peluk tas saya, dan sembari tertawatawa saya berpikir,

"yang sudah patah,
 tidak bisa kembali direkatkan,"


pikir saya. Lalu kembali ke dalam obrolan. Tidak langsung ke rumah, dia membawa saya ke rumah temanyya, entah untuk tujuan apa. Yang pasti, lambat tetapi pasti, diam-diam dia menyusupkan saya ke dalam hidupnya, dia membuat saya bagian dari hidupnya, hanya untuk dipatahkan. Hanya agar saya menjadi salah satu orang yang akan bercerita tentang dia ketika suatu saat ada orang yang berminat untuk membuat biografinya. Toh, dia selalu bermimpi mati muda dengan pencapaian. Selama dia mengobrol dengan temannya saya tatap tas saya dan berpikir,

"yang sudah patah,
 tidak bisa kembali direkatkan,"


pikir saya. Lalu sore menjelang, dia bertanggungjawab mengajak saya pulang. Di rumah saya rogoh tas saya, bagian dalam tas saya, bagian yang paling dalam. Saya genggam coklat yang sudah patah itu, saya genggam dengan pikiran..... tapi dia tidak patah! ketika saya buka, patahannya sudah merekat. Coklat yang patah kembali utuh, tapi rupanya menjadi tidak karuan, bentuknya tidak lagi seperti semula. Ia utuh tapi tak indah wujudnya, tapi ia utuh, tapi ia tak seperti semula.

"yang sudah patah,
bisa kembali direkatkan,
tapi tidak akan serupa seperti semula"


pikir saya. Lalu saya tatap dia, dan saya katakan "yang sudah patah, bisa kembali direkatkan, tapi tidak akan serupa seperti semula," dan dia tersenyum, mengangguk setuju.

"karena yang sudah,
tidak akan menjadi yang akan".



*ditulis ulang dari pengalaman kelas dua sma, di gardujati,
karena pemikiran yang berulang.

You Might Also Like

29 comments

recent posts

Dear you,

Be a Creator, Today!

Be a Creator, Today!
Click at the Image to know how you can earn money from writing!

Google+ Followers

Subscribe