Resign Setelah 7 Tahun Paling Berkesan dalam Hidup, Jadi Jurnalis



"Bekerja bukan sekadar mencari nafkah, tapi ekspresi diri,” Jakob Oetama.

“Kamu ini seperti pakai rakit ke Jakarta.” Kalimat ini ditujukan kepada saya sekitar tujuh tahun lalu, di sekitaran Jakarta Barat, dari publisher Lifestyle Media Division ketika itu, Mbak Reda Gaudiamo. Dia bilang begitu sama saya soalnya saya datang ke Jakarta, ke interview calon reporter itu, naik shuttle car dilanjut angkot dan jalan kaki sendirian tanpa pernah ke Jakarta sendirian sebelumnya.

Dan ketika ditanya pulangnya gimana, saya jawabnya, “Gimana nanti Mbak, soalnya saya mau ketemuan teman dulu di Senayan.” Lalu dia kembali bertanya, saya tahu enggak caranya ke Senayan, saya jawab, “Ya, nanti saya cari tahu.”

Dari cara Mbak Reda mengatakannya, kalimat itu saya anggap sebagai pujian. Dan walaupun dari interview itu saya tahu saya bukan orang yang Mbak Reda cari, karena terlanjur terpukau sama beliau, dengan santainya saya bilang, “Terima kasih yah Mbak, semoga kita bisa ketemu lagi.” Dan dia menjawabnya dengan, “Pasti kita ketemu lagi!”


Mbak Reda 
by +Si Ganteng AADUD'S 

Geng redaksi bersama Mbak Reda (yang di sebelah saya).

Pulang wawancara kerja, pertama kali makan Burger King
diajak Nata yang duluan kerja di Jakarta dan Vito yang anak Jakarta.

Mbak Chandra 
by +Si Ganteng AADUD'S 


Sekitar sebulan kemudian, saya dipertemukan dengan Mbak Chandra yang ketika itu menjabat sebagai pemimpin redaksi majalah remaja di publishing group yang sama. Dari berjalannya interview, saya merasa Mbak Chan ini mencoba mencari tahu saya orangnya kayak apa dengan banyak bertanya soal scoop pergaulan saya ketika kuliah dan setelahnya. Sama seperti pertemuan saya dengan Mbak Reda, saya merasa Mbak Chan ini menyenangkan sekali, malah saya lupa sedang interview.

Enggak lama, saya diminta bertemu dengan Mbak Marti, editor majalah remaja tersebut ketika itu. Awalnya sangat mengintimidasi, orangnya tampak sangat serius dan well educated. Tapi yang dia tanyakan lebih banyak soal selera musik, film, dan konflik pertemanan saya, juga dramanya. Little that we know, dalam tujuh tahu setelah itu Mbak Marti banyak menyaksikan sendiri drama kehidupan saya, live, uncensored, ahahaha, maaf lahir batin yah Mbak Marti! (*hug).


Bareng Mba Marti di nikahan Sekar.


Nyari makan siang di sekitaran Imam Bonjol.

Ketiga perempuan ini lah jendela pertama di mana saya bisa mengintip perusahaan yang sama lamar. Lalu saya mulai lebih banyak mengenal perusahaan ini lewat beberapa perempuan lainnya di Lifestyle Media Division yang berkantor di sekitaran Jakarta Pusat, di belakang Hotel Mandarin Oriental, 'selemparan cawat' dari Bundaran Hotel Indonesia.

Karena kebanyakan media kategori lifestyle yang ini ditujukan untuk pembaca perempuan, kebanyakan redaksinya juga perempuan. Walaupun tetap ada juga laki-lakinya, apalagi fotografer, laki-laki semua. Tapi memang terasa sekali, saya ada di ‘zona dominasi perempuan,’ yang mana, saya merasa sangat nyaman di dalamnya. Di sini hati saya mengembang, setiap kali menyaksikan perempuan-perempuan mandiri, opinionated, berkarya, dan berdaya. Tipe-tipe perempuan yang saya suka sekali saksikan dan menjadi bagian daripadanya.

Tapi, sekitar tiga tahun setelah saya bergabung, riak-riak itu mulai terasa. Dimulai dengan ditutupnya sebuah majalah kesehatan yang lisensinya dari luar negeri, Mbak Reda mengundurkan diri, dan sebuah majalah non lisensi di divisi kami tutup. Kami yang tersisa pun kembali ke Jakarta Barat bergabung dengan media lain di luar lifestyle division yang masih tersisa. I can pretty much say that my media-fairytale-life ended here.



Working in lifestyle media expectation: working in a nice place,
wearing nice clothes, meeting inspiring people, writing nice articles.
Yang mana kejadian, sih. Tapi yang di bawah juga:


Also reality: liputan konser dalam hujan,
di KL, hampir enggak boleh masuk, fotografer berantem sama panitia,
bawa pembaca jugak, ha-ha-ha.



**Disclaimer: Jika hendak melanjutkan membaca blog post ini, saya ingatkan tulisan ini akan panjang dan subjektif. Dan mungkin tidak mewakili perasaan ataupun pengalaman karyawan atau mantan karyawan lainnya. My truth maybe not your truth or anyone's truth.**




Strike one

I was never completely happy moving to West Jakarta. See, I’m a dreamer. Hari saya dimulai dengan daydream di perjalanan ke kantor, jalan kaki dari sekitaran Karet-Setiabudi lalu naik Transjakarta ke Halte Tosari, menapaki jalan Sudirman, bersama para pekerja Ibu Kota lainnya.

Mungkin ini sepele, tapi komuter ini banyak menginspirasi saya, hingga lahirlah blog post berseri, Morning of the Supposed to be Glorious Life. Yang semua idenya berasal dari komuter ini, yang selalu saya tuliskan sesampainya di kantor sebelum mulai bekerja, karena saya selalu tiba pukul 9 pagi bahkan kurang, dan kantor pun masih sepi. Sambil menuliskannya, saya memandang jauh ke luar jendela di lantai 14 itu. Yang kemudian terhenti ketika saya mulai menggarap website, mulai enggak sempat soalnya.


Deadline. Circa 2011, captured by +Si Ganteng AADUD'S 

Ketika nyobain lipstick di kantor belum sepopuler saat ini, hihihi.

Didandanin untuk event tahun 2014 atau 2015 gitu, deh.

More than just a co-worker <3
ki-ka: Mba Uwi, Mba Marti,
Isma (teman seangkatan masuk, bareng jadi editor, tapi dia resign duluan),
dan Mba Ruth.


Suasana kantor di Jakarta Barat lebih seperti kampus, yang mana geng-nya sudah terbentuk. Lebih santai, ada yang pakai sandal jepit juga. I lost the dream and the pride of being that media person like in The Devil Wears Prada, ha-ha-ha. But well, kemudian saya terbiasa juga dengan pergaulannya.

Suasana lain yang berubah adalah, saya baru sadar, di luar lifestyle division, perusahaan ini dikepalai oleh banyak laki-laki, dan ini terasa sekali, baik dari pergaulan, kegiatan, sampai kebijakan. Ya, saya juga lama-lama terbiasa juga sih, karena toh seumur hidup kita juga biasa didominasi kebijakan yang dibuat laki-laki, bukan? (*can you feel my sarcasm?)

Tapi jauh lebih krusial daripada perubahan lingkungan ini, adalah perubahan di bisnis media sendiri. Ketika pindah, saya sudah memegang website. Awalnya berdua dengan mentor favorit (dalam pekerjaan dan hidup), Mbak Ruth. Tapi setelah dia resign, saya sempat mengerjakannya sendirian, ini adalah masa-masa 'terkelam' hidup, duduk jam 9 pagi dan bangkit jam 9 malam setiap hari karena ngerjainnya sendirian. Tapi kemudian dapat bala bantuan, yang pada enggak lama bertahan tapi malah jadi teman di luar pekerjaan.

Sampai saya selalu nanya personal sama mereka, was it me? Am I not a good mentor? Selama lima tahun saya kehilangan lima ‘fruit child,’ lho! Kan bikin insecure. Tapi mereka make sure kalau persoalannya adalah tuntutan pekerjaan tidak berbanding lurus dengan kebisaan atau bayaran. Kalau itu alasannya, aku bisa apa. And hey, if I were such a bad senpai, mereka enggak akan ngajak aku liburan bareng setelah pada resign bukan? (*membesarkan hati sendiri, ha-ha-ha)


Buka bersama Rekan Media Swag tahun ini,
Terima kasih yah sudah membantu aku,
 di rentang waktu kalian masing-masing gaeys!

Pada bersedia datang juga ketika diundang ke event di tahun 2017.
Laff!


Lalu di 2014 perusahan tempat saya bekerja kembali menutup beberapa medianya, termasuk di dalamnya media lifestyle yang tersisa yang pindah ke Jakarta Barat. Juga satu majalah yang berbagi pemred bersama majalah tempat saya bekerja, yang redaksinya sebelah-sebelahan. Saya masih ingat suasananya, dan buat yang pernah merasakan sebelumnya, this was just like opening an old wound.

Di masa ini ada penawaran untuk karyawan yang ingin mengundurkan diri. Saya sempat mengajukan diri, menghadap ke pemred, Mbak Trinzi. Saya bilang, kalau memang perusahaan mau mengurangi karyawan dan saya dianggap memberatkan, I am ready to go.

Pun ketika itu saya merasa stuck (*alasannya saya jelaskan di bawah). Ketika itu saya punya keinginan buat sekolah lagi, tapi di sisi lain saya sudah dituntut untuk menikah oleh ibu, kalau ada uang pisah kan lumayan buat biaya nikah, pikir saya. Tapi niat saya ditolak, ternyata enggak semua orang bisa mengajukan, dan Mba Trinzi meyakinkan saya kalau saya masih bisa berkembang di perusahaan. And I chose to believe her and give the company another chance.

Anyway.


Alasan saya merasa stuck adalah, saya merasa tidak ada keseimbangan antara sumber daya manusia, budget, dan strategi digital untuk bersaing. Sementara saya lihat di luaran, sangat berani mengeluarkan budget untuk hire man power dan paid content marketing.

Bagaikan berusaha membuat nastar yang paling enak, banyak, tapi kemudian pembelinya sedikit karena pada enggak tahu saya jualan. (*Kenapa nastar? Soalnya tahun ini baru bisa bikin sendiri, emm, bohong, Mba Marti yang bikin, aku bulet-buletin aja, sedih).

Tapi soal budget itu beyond my power dan ini simalakama, karena website juga penghasilan iklannya masih kecil dibanding media cetak, sehingga dianggap sampingan. Persoalan klasik media cetak yang mau shifting ke online. Pun ketika traffic akhirnya bisa naik, tapi iklan belum naik secara signifikan, bargaining position saya rendah untuk mengajukan inovasi yang ber-budget. Ya, kan?


Strike two

Di 2016 saya sempat mengajukan resign, karena saya ingin menambah skill di bidang digital, pengen tahu lebih banyak, bertemu mentor lain, pun sebenarnya sudah diterima di perusahaan lain. Tapi ketika itu saya diberikan tantangan baru untuk membuat business plan sebuah website yang menurut saya bisa works. Dibandingkan pekerjaan yang ditawarkan oleh perusahaan baru sih, ini lebih epic, karena saya bisa membuatnya dari tahapan ide sampai terwujud!



Ketika ENTJ (Mba Trinzi) ketemu INTJ,
bedanya satu huruf tapi sifatnya beda banget.
Tapi mungkin itu kak yang bikin kita oke kerja bareng.
Semua yang bedanya didiskusikan soalnya, ha-ha-ha.
Thanks yah kak, for being my optimistic mentor :*


Akhirnya saya kerjakan dengan ‘nodong’ bantuan dari Mba Trinzi dan Mas Ryo. Dan saya tuliskan prosesnya di blog post sebelumnya, bisa dibaca dengan klik di sini.

Yang enggak saya kisahkan di postingan sebelumnya adalah, betapa saya patah hati ketika perusahaan memutuskan untuk mengganti nama websitenya. Karena kami pikir, bentuknya baru tapi tetap media yang sama. Ini sih sama saja dengan ‘menutup’ media tempat saya bekerja, media terakhir sisa lifestyle media, yang sudah kami kerjakan selama ini.

Sebenarnya luka lamanya kembali basah, tapi kami enggak lama-lama baper, kami move on dan jalan terus. This was just business, right? So, I was working with that kind of mindset through all the transition from print to online. Sambil perlahan menyusuri impian lama saya yang sempat terbengkalai, yang saya tuliskan di blog post yang satu ini, klik aja.


Sekali saja jadi best employee selama tujuh tahun kerja~



Belajar setelah selesai jam kerja? Buat saya sih seru.
Makasih Om aku diajakin workshop tapi cuma aku yang enggak dapet sertifikat, cedih.
Selfie muka jelek, setelah curhat panjang lebar soal masa depan
 with Om Elwin & Mba Marti :P


Strike three

Januari 2017 begitu cerah. Website baru running smoothly. Kami juga sukses menggelar acara talk show yang membahas aktualisasi, keamanan, dan kenyamanan remaja perempuan di dunia digital. Bisa baca dengan klik di sini. Keriaan ini berjalan sampai Februari di mana target traffic yang kami buat hingga akhir tahun bahkan sudah tercapai, tinggal target iklan yang dikejar.


Terima kasih, geng, atas event yang sangat berkesan!


Jadi pembicara, bareng vlogger idola remaja @ardinhai 
dan MC kondang Kenny Djafar.


Semuanya berjalan lancar, penuh kerja keras, tapi bisa dikatakan lancar, lalu ingin dikembangkan, saya sepakat.

Tapi di sisi lain, saya semakin merasa kosong, semakin saya tahu, semakin saya merasa tidak tahu.


Di momentum pengembangan ini, kami mendapatkan pemimpin baru untuk semua media digital. Seseorang yang sudah mengembangkan media online lain milik publishing company tempat saya bekerja ini. Dia mengembangkan sebuah media online nasional dalam beberapa tahun terakhir hingga secara traffic bisa melesat dan meninggalkan media online lainnya.

Saya penasaran, apa inovasi untuk membesarkan semua website yang ada di perusahaan ini. Dari beberapa sesi mendengarkan apa yang beliau sampaikan di forum, saya terkesan, semua yang dia katakan sangat make sense dan teknis, buat saya penting, karena saya pekerja teknis, saya suka tipe atasan seperti ini. 

Ide yang beliau kembangkan saya amini, karena sekitar empat tahun lalu saya pernah menanyakan ide ini ke atasan. Siapa sangka, empat tahun kemudian, kejadian. Jadi saya sepakat sama ide beliau ini.

Sejak kedatangan beliau pun kami diajak mengikuti beberapa sharing class, pekerjaan pun lebih integrated. Intinya, he knows the drill and I respect that.

Tapi ada satu hal esensial yang kemudian menjadi deal breaker bagi saya. Website baru yang diusulkan adalah sebuah website fokus ke pemberitaan selebriti.


My heart skipped a beat. 


Saya yang ketika itu sedang semangat-semangatnya menyajikan konten tentang kesetaraan gender, tentang women empowerment, tentang menjadi perempuan smart sebagai citizen dan netizen. Saya merasa apa yang sedang saya coba kejar menjadi redundant.

Hanya dalam tiga bulan, website baru ini bisa mangkal di posisi 20 (Indonesia) Alexa, prestasi yang luar biasa, terbukti kalau konten yang ditawarkan memang diminati banyak orang, traffic-nya tinggi, konsepnya berhasil. Dan saya sepakat, secara bisnis memang sebuah website itu traffic-nya harus tinggi supaya menarik banyak iklan.


Tapi.....

Saya dan papan Bukan Propaganda.


Tapi saya jadi teringat waktu suami saya, dulu masih pacar, yang ketika itu jadi ketua Hima Jurnalistik. Dia nanya sama saya kenapa saya mengajukan diri menjadi pengurus Divisi Media yang salah satu pekerjaan utamanya adalah mengurus mading bernama ‘Bukan Propaganda.’ Walau kami pacaran, proses interview tetap berlangsung dengan cukup formal, dia orangnya begitu. 

Saya cerita pengalaman pertama saya membaca tulisan di BP, tulisannya bagus, tapi sayang, di mading itu ada yang suka nempel poster, sampah, bahkan menjadikan tulisan yang ditempel sebagai tissue. Saya juga bilang kalau saya dipercaya, saya akan menarik lebih banyak pembaca BP dengan berbagai cara. 

Karena saya percaya, percuma tulisan bagus, kalau enggak ada yang baca. Tapi, percuma juga banyak yang baca kalau tulisannya enggak bagus. This is what media’s about, right? And I really believe that. Bagaimana menyampaikan informasi yang bermanfaat dan tulisan yang layak kepada khalayak.


Balik ke masa kini. 


Saya tidak pernah diminta untuk mengubah konten. Juga tidak pernah ada paksaan dari pihak manapun untuk mengubah apa yang selama ini kami kerjakan.

Sehingga bagi sebagian teman kerja sangat mengherankan ketika saya memutuskan untuk resign. Tapi seperti saya jelaskan kepada tim redaksi, ini bukan satu-satunya alasan saya memutuskan untuk resign. Tapi ini kemudian menjadi momentum, menjadi aha moment yang menyadarkan saya bahwa sudah tiba saatnya saya mencari pengalaman lain di luar.

Di satu sisi, saya paham betul konten seperti itu yang laku di pasaran, saya juga melihat bagaimana netizen berperilaku selama ini, buktinya juga di depan mata. Saya juga paham secara bisnis memang menguntungkan, sehingga saya paham. Paham, bukan sepakat, ketika perusahaan memutuskan untuk membuat website dengan konsep ini.


Trust me, I get it. I don’t want to fight it. I don't hate the people behind it. I just don’t want to be a part of it. As simple as that.



Dan...


Tanpa disangka, perusahaan juga sedang mengetatkan ikat pinggang lagi. Lagi-lagi ada divisi yang ditutup dan ditawarkan kembali jika ada karyawan yang ingin mengundurkan diri. Kalau dibandingkan dengan perusahaan lain yang melakukan PHK sepihak, atau dengan perusahaan yang lalai membayarkan hak karyawannya, perusahaan ini bersikap penuh penghargaan dan fair, dan itu sangat saya hargai. This is just a business strategy that the company has to take and I get that.

Bagi saya yang sudah membuat surat resign dan tinggal di-print saja, ini bagaikan dukungan semesta. Begitu kembali ke kantor setelah cuti, saya resign.

Bukan tidak takut, bukan tidak sedih, bukan tanpa beban. Tapi saya sudah ada di titik di mana saya tidak bisa berfungsi secara maksimal kalau saya tetap tinggal. Bagi beberapa orang yang berada di mental state yang sama dengan saya, mereka bisa mengambil keputusan dengan cepat.

Tapi bagi karyawan lainnya, ini mungkin seperti mimpi buruk? Selama hampir dua minggu, pikiran dan emosinya campur aduk, memikirkan langkah terbaik untuk diambil yang pasti akan sangat mempengaruhi masa depan.

Banyak diskusi dengan teman dan keluarga. Banyak dari teman saya sudah bekerja lebih dari sepuluh tahun di perusahaan ini, dari segi usia juga mungkin sudah melewati masa produktif yang jadi preferensi dunia kerja, atau mereka yang loyal di perusahaan ini, sehingga memutuskan untuk pergi menjadi sangat sulit.

Tapi di sisi lain, memutuskan untuk stay dan siap menerima suasana kerja dan sistem baru dengan suasana yang begitu berbeda jelas juga membutuhkan keberanian besar. Untuk keduanya, adalah sesuatu yang berat, dan saya menyaksikannya sambil mengalaminya sendiri.

Dalam keadaan ini, kami mulai bertanya pada diri sendiri,


"Kita ini hidup untuk apa, mau apa?" 


Dan jawaban yang akhirnya ditemukan setiap orang pun tentu saja berbeda. Jawaban ini lah yang kemudian membuat seseorang tinggal atau pergi, yang mana menurut saya banyak daripadanya sangat personal dan bisa jadi enggak terkait dengan kebijakan atau keadaan perusahaan. Karena semua orang paham, industrinya sedang struggling.

That's why menurut saya enggak banyak postingan nyinyir atau kabar ini sampai menjadi berita karena ada pihak yang enggak terima, misalnya. Karena saya juga percaya, selama kami bekerja, perusahaan selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi kami karyawannya.

Di pertengahan Mei lalu, saya dan ratusan karyawan lainnya pamit di 30 Juni 2017, termasuk saya, dan beberapa sahabat yang dalam tujuh tahun empat bulan ini sudah menjadi keluarga saya. Dan walaupun keputusan saya sejak awal sudah bulat, ini tetap berat.

Mei, bulan di mana saya lahir, selalu jadi bulan yang berat.

Saat ini secara emosi, saya rasa kami, baik yang memutuskan untuk pergi atau tinggal, sudah lebih tenang, sudah stabil. Rasanya seperti kelulusan jaman kuliah dulu berulang lagi, di mana semuanya berubah, di mana semuanya berpencar, di mana kita sekali lagi dilempar ke kolam dan harus berusaha tetap mengapung, sambil merangkai rencana,


what’s next?






The team yang membuat ide jadi NYATA <3



Formasi redaksi circa 2013-2014, sudah tidak ada sisanya.


One of my fave pict, menyambut lebaran 2015.



Panjang umur, sehat, dan bahagia selalu Pak Jakob <3




*PS: Terima kasih dengan sangat saya sampaikan kepada semua pihak yang namanya tertulis di sini dan yang tidak, yang ikut mengalami fase hidup ini bersama saya. Baik bagi yang pergi atau tinggal, semoga diberikan pencerahan dan kebahagiaan. Juga kepada Mas Guruh dan team HR yang sudah menemani kami semua menjalani proses ini dengan sepenuh hati, God bless you all.

Dan bagi perusahaan, terima kasih atas semua kesempatan yang sudah diberikan, betapa saya sangat bersyukur. Dan saya akan terus memperhatikan perkembanganmu, anxiously waiting for your shape-shifting fitting into this new era of information. Looking forward for it and wish you all the best. I feel nothing but love. 

xoxo


Achilles.

Comments