Mungkin, setiap baru pacaran, harusnya sambil nyicil barang?

7:25 PM

5 komentar teman ketika mereka tahu berapa lama saya pacaran






Saya butuh waktu tiga bulan buat memutuskan mau beli sepatu yang mana. Enam bulan untuk mempertimbangkan sebelum akhirnya beli handphone baru. Dan empat tahun untuk akhirnya beli laptop. Semua proses diawali dengan keinginan yang tiba-tiba timbul, mencari tahu informasi soal barangnya, lalu menimbang-nimbang jumlah uang yang akan dikeluarkan. Kebayang, dong, berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk akhirnya memutuskan berbagi hidup sama seseorang?

Hampir, sepuluh tahun.

Saya kenal Irfan waktu masih kelas dua SMA, dia kelas tiga. Tanpa proses PDKT yang standar, Irfan memang kelihatan banget ngedeketin. Tapi enggak pernah terang-terangan nyatain. Lalu dia lulus, lanjut kuliah. Saya sibuk jadi anak kelas tiga SMA. Tapi dia enggak pernah hilang dari hidup saya. Walaupun enggak intens, ada momen-momen Irfan hadir. Ulang tahun. Tahun baru. Atau kadang dia cuma SMS nanya atau ngabarin. Saya enggak akan nyeritain gimana detailnya. Kayaknya seru dibuat cerita sendiri dengan bahasa ala-ala Paulo Coelho. Nanti saya coba. Kapan-kapan.

Ternyata, takdir mengatakan saya enggak lolos pilihan pertama SPMB (Saringan Penerimaan Mahasiswa Baru – tahun 2004 istilahnya ini) Managemen Unpad. Tapi lolos pilihan ke-dua, Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad. Eh, Irfan udah kuliah duluan di sana, satu tahun. Awalnya saya lupa. Ingatnya dia mau kuliah Kedokteran, soalnya dia pintar. Pernah ranking satu di SMA. Saya? Kayaknya ketika dia ranking satu, saya lagi ada di kelas tambahan buat siswa yang nilai rata-rata ulangan matematikanya di bawah enam. Itu saya, sama lima atau tujuh anak lainnya. Ha-ha-ha.

Kebetulan saya baru putus. Dan di kampus jadi lebih punya banyak waktu buat saling mengenal. Banyak aktivitas di luar kelas, banyak adegan menunggu, kebetulan saya dan Irfan juga enggak kos. Jadi banyak waktu dalam perjalanan Jatinangor ke Bandung dan Cimahi. Akhirnya, kami jadian di 7 September 2005. Di Jatinangor. Enggak nyangka, sepuluh tahun kemudian kami menikah. Tanpa putus-nyambung. Walaupun ada lah, masa-masa yang mungkin bisa menginspirasi Adele bikin lagu.

Kadang saya dan Irfan enggak habis pikir. How things falls into places. Kalimat barusan, pengennya ditulis dalam bahasa Indonesia. Tapi kok, bingung. Bagaimana semua hal bisa dengan begitunya terwujud? Kayaknya enggak begitu deh, bahasa Indonesianya. Eumm. Balik ke cerita. Tapi ternyata bagi orang-orang di sekitar saya, lebih enggak habis pikir lagi, berapa lama kami pacaran! Ha-ha-ha.

Iya, sepuluh tahun.

“Putus berapa kali itu?”
Dan ketika saya jawab, enggak putus, si teman membelalak enggak percaya. Dilanjutkan dengan pertanyaan “kok, bisa? Saya jawab, “enggak tahu.” Lalu saya lanjut jawab, “karena enggak ada lagi yang mau sama saya,” atau “karena enggak ada orang lain yang bikin saya tertarik.”

Padahal saya percaya kalau cinta atau keadaan in love itu akan luntur setelah dua tahun, paling lama. Ini saya pernah nonton dokumenternya di Natgeo Channel. Sisanya adalah familiar, persahabatan, dan komitmen. Makanya banyak yang putus karena udah enggak dalam fase in love. Tapi ya memang, enggak ada orang lain yang bisa bikin saya berpikir kalau dia lebih baik dari Irfan, sih.

“Kamu anaknya enggak bosenan, yah?”
Seringkali, lagi makan, saya berhenti. Bukan kenyang. Tapi bosan. Tapi kalau sudah menyangkut sama manusia, saya bukan pembosan. Kalau saya sudah suka sama seseorang, sebagai teman atau orang spesial, mereka bakal jadi my people, inner circle, orang-orang terpilih Karena saya sulit suka atau dekat sama orang lain. Most people annoyed me.

“Kalo nyicil mobil udah lunas!”
Kalimat-kalimat sekenanya gini, nih, yang paling asik. Asik buat diketawain aja. Enggak usah dijawab. Ya mana kita tahu kan, yah, mau berapa lama sama siapa. Mungkin di awal relationship, kita harus mulai menyicil sesuatu bersama. Nanti pas putus jadi punya harta gono-gini. At least, ada peninggalan selain kenangan dan patah hati? *Emoji muka rata*

“Dan masih belum diajak kawin? Putusin!”
Pasti punya, dong, tipe teman yang seperti ini. Yang merasa memegang buku pedoman garis-garis besar dan aturan dalam hubungan laki-laki dan perempuan? Komentar ini sungguh menggemaskan. Kalau komentar lain biasanya membuat saya senyum maklum, yang ini? Senyum terpaksa. Karena nilai seorang laki-laki adalah berani atau enggak ngajak kawin? Karena asumsinya semua perempuan sangat menanti-nantikan diajak kawin? Baik. Akan saya hentikan sebelum tulisan saya semakin nyinyir.

“Kalian nunggu apa lagi, sih?”

Ini berasal dari teman dekat saya yang memang peduli sama masa depan saya. Itunya dua puluh persen. Delapan puluh persennya kayaknya dia enggak paham saja sama pola pikir saya, he-he-he. Wajar. Saya aja kadang suka enggak paham sama pola pikir saya sendiri. Lalu saya jawab, mengutip Facebook di masa-masa kejayaannya, “it’s complicated.”

You Might Also Like

0 comments

recent posts

Dear you,

Be a Creator, Today!

Be a Creator, Today!
Click at the Image to know how you can earn money from writing!

Google+ Followers

Subscribe